Sudah menjadi sifat manusia untuk membela diri. Sama seperti makhluk lain yang punya mekanisme pertahanan diri, manusia pun, sadar atau tidak, secara naluriah memiliki mekanisme serupa. Tapi celakanya, mekanisme tersebut juga berlaku saat manusia melakukan kesalahan, entah benar atau salah yang penting membela diri....gak mau dianggap salah....yah, kira-kira begitu....meski tidak selalu begitu....
Dienul Islam mengajarkan untuk muhasabah dan tawadhu’. Muhasabah artinya introspeksi diri, dimana manusia diajarkan untuk mengevaluasi diri sendiri, secara jujur menilai apapun yang telah dilakukannya sebagai sarana memperbaiki diri yang didasari oleh keyakinan bahwa kelak apapun yang dilakukan juga akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh SWT.....para ustadz menyebutnya dengan istilah “hisab (timbang) dirimu sendiri sebelum di hisab oleh Alloh”.
Tawadhu’ artinya rendah hati, dimana manusia diajarkan untuk memposisikan dirinya sendiri sebagai pemalu dihadapan Alloh, yang membuatnya enggan menyombongkan diri, enggan menganggap diri lebih baik dari orang lain, enggan dipuji atas segala kelebihan, dan enggan selalu berkeluh kesah atas segala kekurangan. Manusia diajarkan untuk menyadari bahwa Alloh Maha Mengetahui atas segala kekurangan dan kelemahannya hingga tak layak bila ia menyombongkan diri, dan Alloh pun Maha Berkehendak dengan memberi berbagai ujian untuk menilai kualitas ketaqwaan hambaNya, hingga tak layak bila ia selalu berkeluh kesah.
Minimnya kesadaran untuk bermuhasabah dan memupuk sikap tawadhu’ akan membuat manusia terlalu enggan mengakui kesalahan dan cenderung mencari-cari pembenaran untuk kepentingannya sendiri. Contoh sederhananya
“saat seorang anak yang sedang mengepel lantai meletakkan ember berisi air ditengah jalan, lalu tumpah terkena langkah kaki ayahnya yang tergesa-gesa, sang ayah menegur kenapa meletakkan ember ditengah jalan.....tapi ketika sang ayah yang mengepel lantai dan melakukan hal serupa, saat anaknya menumpahkan air dalam ember, sang ayah menegur kenapa jalan tidak hati-hati padahal tahu kalau ayahnya sedang mengepel lantai...”
Kadang...
Seorang istri tidak merasa bersalah saat menuntut terlalu banyak pada suaminya...ia anggap, sudah kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan istri....dan suami pun tidak merasa bersalah saat tidak menghargai jerih payah istrinya...ia anggap, sudah kewajiban istri untuk mengurus rumah....
Kadang...
Seorang guru/ustadz/atasan tidak mau menerima koreksi saat diingatkan murid/santri/bawahannya....ia anggap, wibawanya akan turun bila ia mengakuinya....
Kadang....
Seorang wanita tidak mau disalahkan saat memamerkan aurat bahkan menjual diri untuk mencari sesuap nasi...ia anggap, terserah dirinya maw berbuat apa untuk mengais rejeki, yang penting tidak merugikan orang lain...
Kadang...
Susah mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah, apalagi klo ada kepentingan pribadi didalamnya....kebenaran pun sengaja dikaburkan, untuk sebuah pembenaran....
Walah, walah, mengakui kesalahan emang susah....apalagi berusaha memperbaiki.....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar