Minggu, 26 Oktober 2008

Benar salah

Ya Alloh, tunjukkan kepada hamba dengan jelas, bhwa yang benar adalah benar, dan kuatkan iman hamba untuk mengikutinya...

Dan tunjukkan pula kepada hamba dengan jelas, bahwa yang salah adalah salah, dan kuatkan hati hamba untuk menghindarinya...

Ya Rabb, kepadaMu aku memohon, dan kepadaMu aku berserah diri...

-oase-

Bagai pelacur

Seorang wanita yang memakai wewangian lalu lewat diantara para laki-laki, dengan tujuan supaya mereka mencium bau wewangiannya dan tertarik padanya, tak ubahnya seperti seorang pelacur.

Bagi laki-laki?kayaknya sama aja.

Ingatkan diri sendiri dan orang2 yg kita sayangi, dengan cara-cara yang baik.
Jaga hati, jaga sikap.

-oase-

Syukur

Ya Alloh, terima kasih atas karunia dan ujian yang Engkau berikan....ikhlaskan, dan teguhkan hati ini dalam menghadapinya...bimbing hamba dalam menjalani kehidupan di dunia, agar tidak menjadi hambaMu yang lalai, yang lupa dari mana ia berasal, dan ke mana ia akan kembali...
Ya Alloh, ridhoilah hidupku...

-oase-

Belas Kasih

Dari Aisyah ra. ia berkata: “Seorang penduduk desa datang pada Rasulullah lalu berkata: “Engkau mencium anak2, sungguh aku tak pernah mencium mereka”. Kemudian Nabi bersabda: “Tiada kuasa aku (menolong kamu) jika Alloh mencabut sifat belas kasih dari hatimu”. (HR. Bukhari, shohih)
Orang yang mengasihi saudaranya akan berusaha agar kehadirannya mampu mendatangkan kebaikan bagi saudaranya.
Layakkah orang yang membiarkan atau mengajarkan keburukan disebut saudara?

-oase-

CEWEK PERGI MA COWOK???

Idealnya sih, wanita jangan pernah bepergian dengan laki-laki non-muhrim tanpa didampingi temen wanita lain atau muhrimnya. Agama mengajarkan demikian untuk menjaga kehormatan si wanita dan laki-laki tersebut dari fitnah yang bisa timbul dari 3 (tiga) pihak, yaitu si wanita sendiri (deg2an, salah tingkah, ke-GR-an wah jangan2 masnya naksir, atau malah berpikir waw, masnya keren juga,hehe...astaghfirullah....), dari si laki-laki (deg2an juga, salah tingkah gara2 mbaknya keren top abiz,hehe....), dan dari orang lain yang tahu atau melihat (ssst...liat tuh, mereka berduaan, jangan2 pacaran...padahal yang satu jilbaban yang satu punya tampang orang alim lho, jangan2 dah nikah ya?...blablablabla...)

Menurut ke-sotoy-an, prinsipnya begini:


1. Sewaktu saya ngaji dulu (jelek2 gini pernah ngumpul ma orang2 shaleh...), saya diajari untuk tidak mendekati zina (deket aja nggak boleh apalagi nglakuin), salah satunya membatasi hubungan atau interaksi dengan lawan jenis (maksudnya cewek, bukan hewan, tumbuhan....). Batasannya yang gimana? wah, susah dijelaskan tapi sebenarnya semua orang “yang berakal dan mau berpikir” (raurusan ma yang clelekan...) pasti tahu gimana caranya berinteraksi dengan lawan jenis yang mendatangkan kemaslahatan bersama sesuai etika dan kaidah agama (ribet amat ngomongnya...simplenya saling menjaga kehormatan dari 3 sumber fitnah di atas...).

2. Dalam praktek di lapangan (koyo opo wae...), tidak mungkin semua yang kita temui selalu dalam kondisi ideal sesuai keinginan, ada kalanya kita terpaksa melakukan sesuatu karena keterbatasan yang kita miliki, dan keterbatasan tiap orang tu berbeda boz, jadi jangan digeneralisir...yang penting kita upayakan yang terbaik sesuai kemampuan kita, setelah itu masalah salah atau nggak ya tawakal ma Alloh Yang Maha Mengetahui, Dia lah yang berhak menilai....soal penilaian 3 sumber fitnah ya ikhlaskan aja, kita nggak berhak ngatur-ngatur apa yang dipikirkan orang, biarin aja....yang penting kita dah benar-benar berusaha....

Nah, sekarang juknis (petunjuk teknis) per-kasus-nya begini:
1. Cowok cewek bepergian cuma berdua? berusaha nyari korban untuk nemenin, lebih baik klo korbannya cewek yang udah baligh (klo korbannya balita sih sama aja, malah repot n bisa dikira bapak ibu dan anak....). Kasi pengertian pada sang korban.....Klo dah usaha tapi tetep aja nggak dapet?


  • ¨ Klo keperluannya bisa dikerjain sendiri ya suruh si cowok yang berangkat sendiri (cewek kadang2 g adilnya disini, emansipasi kok setengah2...hehe...piss...). Tapi klo yang punya perlu si cewek ya terpaksa si cewek berangkat sendiri....sekalian belajar jadi akhwat (baca: cewek) tangguh...smangat!!!

  • ¨ Klo emang gak bisa dihindari, contohnya pulang kampung, ceweknya g brani pulang sendiri dan sang ortu mewanti2 tuk cari barengan, sementara kebetulan ada barengan tapi seorang cowok (bentar, kayaknya aku pernah begini deh...hehe), ya pulang aja sana berdua, entar diatur dijalan....yang pernah saya alami, tempat duduk di kereta pesen yang sejajar tapi nggak bersebelahan misalnya nomor 7 A dan 7 C (Senja Utama mania pasti ngerti...), klo dah terlanjur beli yang berdampingan kan bisa nyari tukeran swaktu dah naik kereta.....selain masih bisa njagain, interaksi dalam perjalanan kan bisa terjaga (klo beda gerbong bisa juga, tapi agak gimana gitu, tapi ya terserah sih...). Klo masih terpaksa juga, misal g ada yang bisa diajak tukeran tempat duduk, ya kembali ke prinsip sotoy nomor 2.....

  • ¨ Contoh lain, misalnya masalah berboncengan sepeda motor (rekan-rekan saya semasa kuliah banyak yang ngalami nih, terutama kalau ada acara di daerah....), ya diusahain gimana caranya sesama kaum hawa di daerah saling pengertian soal ini, saling bantu agar saudari2nya bisa lebih nyaman ikut berbagai kegiatan...yang cowok juga, misal ada dua cowok masing2 bawa satu motor trus ada cewek yang harus dijemput, ya salah satu motor biar dipake si cewek, si cowok boncengan ma cowok satunya....Klo pada kondisi2 tertentu masih kepepet juga? ya boncengan aja sana, maw gimana lagi, kembali ke prinsip sotoy nomor 2...setelah semua usaha yang kita lakukan, hanya Alloh lah yang berhak menilai....


2. Seorang cowok bepergian diantara para cewek? klo bisa cari korban cowok satu lagi buat nemenin, klo emang dah g ada ya jaga jarak misal bawa kendaraan sendiri atau cari tempat duduk terpisah....tapi kasus ini jarang terjadi, ngapain juga ngajak satu cowok, ceweknya kan g seorang, harusnya g masalah bepergian tanpa kehadiran seorang cowok....tapi gpp sih, bwat bantuin angkat barang, hwehehe....maap, becanda...
3. Seorang cewek bepergian diantara para cowok? klo bisa cari korban cewek lain buat nemenin, klo g ada juga ya gimana lagi, usahakan jaga jarak...sama halnya seperti cowok yang bepergian diantara para cewek...

Nah, yang saya tulis di atas hanya bila kondisinya memang perlu bepergian, klo bepergian hanya untuk hal2 yang g penting atau g mendesak (peran kita bisa digantikan oleh rekan lain lawan jenis), ya nggak usah pake acara barengan, g usah ikut aja, demi kehormatan masing2....tapi menolaknya yang baik, untuk menjaga hubungan baik....ingat, ada masanya Al-Qur’an turun bertahap, ada masanya sholat belum diwajibkan, ada masanya juga hal yang haram ditetapkan bertahap, tapi tidak pernah ada masa dimana ukhuwah dikesampingkan....(wuih, sok banget, dah pantes ikut pildacil nih...)

Pertanyaan nyleneh:
Tanya:
“Heh, sok banget sih, emang klo cowok cewek pergi bareng tu bisa mengurangi kehormatan?”
Jawab: “Bukan begitu boz, cuma mengantisipasi aja, sumber fitnah kan ada 3, sementara kita juga g bisa ngatur pikiran orang...pandangan orang tu mau tidak mau juga akan jadi pertimbangan, kan g nyaman juga klo kena fitnah macam-macam... yang terpenting kita berusaha menjalankan perintah Alloh untuk saling menjaga diri, syaithon pinter banget loh boz, g ada salahnya mengambil langkah preventif selama masih bisa diupayakan, klo emang terpaksa kan juga gpp...toh bukannya tidak membolehkan, cuma ngasi batasan...”

Tanya: “Klo kegiatannya sih g penting2 amat, tapi saya pengin banget dateng, gmn?”
Jawab: “Ya terserah, atur aja, kan dah tau prinsipnya....Penting ato nggaknya sesuatu tu relatif, tiap orang bisa beda, yang penting bukan masalah pergi tidaknya, tapi bisa terhindar dari fitnah ato nggak...”

Uwis ah, capek, maw nulis yang lain, dah blank... yang saya tulis di atas cuma bahan pertimbangan aja, jangan jadi rujukan, g pantes... nulisnya juga cuma karena beberapa pertanyaan serupa, bahkan ada yang mpe minta dibuatin artikel, enak wae, padahal aku g bgitu paham soal sperti ini, jadi ya asal nulis aja...

Okey coy, smoga bermanfaat...

KEBENARAN ATAU PEMBENARAN

Sudah menjadi sifat manusia untuk membela diri. Sama seperti makhluk lain yang punya mekanisme pertahanan diri, manusia pun, sadar atau tidak, secara naluriah memiliki mekanisme serupa. Tapi celakanya, mekanisme tersebut juga berlaku saat manusia melakukan kesalahan, entah benar atau salah yang penting membela diri....gak mau dianggap salah....yah, kira-kira begitu....meski tidak selalu begitu....
Dienul Islam mengajarkan untuk muhasabah dan tawadhu’. Muhasabah artinya introspeksi diri, dimana manusia diajarkan untuk mengevaluasi diri sendiri, secara jujur menilai apapun yang telah dilakukannya sebagai sarana memperbaiki diri yang didasari oleh keyakinan bahwa kelak apapun yang dilakukan juga akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh SWT.....para ustadz menyebutnya dengan istilah “hisab (timbang) dirimu sendiri sebelum di hisab oleh Alloh”.
Tawadhu’ artinya rendah hati, dimana manusia diajarkan untuk memposisikan dirinya sendiri sebagai pemalu dihadapan Alloh, yang membuatnya enggan menyombongkan diri, enggan menganggap diri lebih baik dari orang lain, enggan dipuji atas segala kelebihan, dan enggan selalu berkeluh kesah atas segala kekurangan. Manusia diajarkan untuk menyadari bahwa Alloh Maha Mengetahui atas segala kekurangan dan kelemahannya hingga tak layak bila ia menyombongkan diri, dan Alloh pun Maha Berkehendak dengan memberi berbagai ujian untuk menilai kualitas ketaqwaan hambaNya, hingga tak layak bila ia selalu berkeluh kesah.
Minimnya kesadaran untuk bermuhasabah dan memupuk sikap tawadhu’ akan membuat manusia terlalu enggan mengakui kesalahan dan cenderung mencari-cari pembenaran untuk kepentingannya sendiri. Contoh sederhananya
“saat seorang anak yang sedang mengepel lantai meletakkan ember berisi air ditengah jalan, lalu tumpah terkena langkah kaki ayahnya yang tergesa-gesa, sang ayah menegur kenapa meletakkan ember ditengah jalan.....tapi ketika sang ayah yang mengepel lantai dan melakukan hal serupa, saat anaknya menumpahkan air dalam ember, sang ayah menegur kenapa jalan tidak hati-hati padahal tahu kalau ayahnya sedang mengepel lantai...”

Kadang...
Seorang istri tidak merasa bersalah saat menuntut terlalu banyak pada suaminya...ia anggap, sudah kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan istri....dan suami pun tidak merasa bersalah saat tidak menghargai jerih payah istrinya...ia anggap, sudah kewajiban istri untuk mengurus rumah....
Kadang...
Seorang guru/ustadz/atasan tidak mau menerima koreksi saat diingatkan murid/santri/bawahannya....ia anggap, wibawanya akan turun bila ia mengakuinya....
Kadang....
Seorang wanita tidak mau disalahkan saat memamerkan aurat bahkan menjual diri untuk mencari sesuap nasi...ia anggap, terserah dirinya maw berbuat apa untuk mengais rejeki, yang penting tidak merugikan orang lain...
Kadang...
Susah mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah, apalagi klo ada kepentingan pribadi didalamnya....kebenaran pun sengaja dikaburkan, untuk sebuah pembenaran....

Walah, walah, mengakui kesalahan emang susah....apalagi berusaha memperbaiki.....