Shafar berlalu, Rabiul awal datang.......
Umat Islam pun bersiap, menanti datangnya hari itu,yah, maulid nabi. Ada yang biasa aja, ada yang memperingati dengan sederhana, bahkan ada yang sampai mengadakan acara besar-besaran, meski banyak pula yang masa bodoh, ndak ngerti, ato nggak tau sama sekali. Saya tidak akan membahas kemeriahan atau rupa-rupa acara yang diadakan untuk menyambutnya, namun lebih pada sisi falsafahnya, tentu saja semua dalam sudut pandang saya. Anda berhak setuju, mengoreksi, bahkan menegur bila ada yang tidak sesuai dengan yang anda pikir, asal jangan terlebih dulu merasa "benar", anggap saja kita sedang sharing....
Simbol
Seperti yang kita tahu, Maulid Nabi adalah hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Meski ada yang mengatakan ini hari istimewa, namun kita sangat dilarang untuk terlalu mensakralkan sebagaimana umat agama lain yang menjadikan hari kelahiran Nabinya sebagai hari raya yang diutamakan. Kenapa? Ya, beliau tetaplah manusia biasa. Yang penting adalah apa yang dia ajarkan bukan kapan dia lahir. Apalagi ada kekhawatiran adanya pemujaan yang berlebihan. Alasan serupa mengapa Rasulullah marah ketika ada shahabat yang mengatakan berani mati demi Rasulullah, padahal yang namanya jihad hanya demi Allah. Makam beliau pun di jaga agar tidak dijadikan "perantara" oleh orang-orang yang belum paham benar tentang Islam, tidak seperti budaya daerah kita yang demen nglalap berkah, kebodohan yang dipelihara. Islam tidak mengenal perantara ibadah antara hamba dan Rabb-nya. Kalaupun ada yang memperingati kelahiran beliau, oke lah, asal tidak berlebihan dan menimbulkan mudharat aja. Kehadiran Rasulullah adalah berkah yang luar biasa bagi umat manusia. Sebagai Rasul terakhir, beliau menyampaikan wahyu sebagai penyempurna Nabi dan Rasul sebelumnya. Boleh diartikan kehadirannya sebagai juru selamat dengan kepribadian yang luar biasa. Cocok benar dengan kondisi kita saat ini yang minim keteladanan.
Sebagai manusia biasa, kepribadian dan keteladanan beliau sangat manusiawi, dengan kata lain kita mampu meneladaninya. Shiddiq, amanah, fathonah, tabligh, itu bisa kita interprestasikan, pun sifat lain seperti lemah lembut tapi tegas, penyayang, pemurah, dan sifat baik lainnya. Bukankah sifat-sifat tersebut yang kini langka? Bukankah sosok ini yang diidamkan bangsa? Ya! Maka sah-sah saja kalau kita memperingati maulid nabi sebagai sarana mengingat kembali keteladanan beliau. Tentunya sebagai pemacu agar kita tergerak untuk meneladaninya sebagai upaya untuk menjadi bagian dari solusi kehidupan umat. Bukan sekedar ritual atau rutinitas belaka.
Ironi
Entah sudah berapa kali kita memperingati maulid Nabi, bahkan mungkin kita sampai hafal apa yang akan dikatakan penceramah saat pengajian-pengajian yang biasanya digelar. Atau, kita sampai hafal apa saja yang ada di sekaten. Namun anehnya hanya kesan ritual dan rutinitas yang kita dapat, bukannya introspeksi untuk meneladani Rasulullah...Ritual Rebopungkasan kadang masih berbau syirik, acara Sekaten malah diramaikan perjudian terselubung....Kalau dilihat dari sisi orang awam, maksud saya orang-orang yang tergolong obyek da'wah bukan subyek da'wah, tidak ada pemahaman yang memadai dalam memaknai maulid Nabi. Bagi mereka, termasuk saya dan mungkin anda, acara-acara yang diadakan tidak lebih sebagai ritual tahunan. Pengajian pun kalah tenar, kalaupun ada, peminatnya tak seramai acara-acara yang dikemas tradisianal dengan sisipan hiburan dan kepercayaan tentang nglalap berkah.
Entah salah siapa, orang-orang ngerti agama tapi gak aktif menda'wahkan, atau memang mereka yang belum paham bahwa hidayah perlu diupayakan? Atau mungkin terlanjur termakan paradigma salah tafsir tentang kata-kata "kita kan gak seperti Rasulullah?" Entahlah....Dari sisi orang-orang yang terpelajar,atau mungkin yang sedang belajar mendalami agama, mungkin agak mendingan. Ada nuansa muhasabah, atau paling tidak terbersit pikiran tentang perlunya meneladani beliau. Tapi ironinya, saya masih sering menemui keganjilan pada orang-orang ini. Masih saja banyak perbedaan furu' (kecil) yang dibesar-besarkan, bahkan cenderung mengelompokkan, terkesan Islam-nya "beda". Bukankah dalam diri Rasulullah sudah ada contoh bagaimana menyikapinya? Lucunya lagi ada orang yang ngotot merasa yakin benar, sampai mudah sekali mengkafirkan atau minimal terlalu mudah menyalahkan orang yang dianggapnya "lain". Yang salah ngeyel kalau nggak salah, yang benar jadi salah dalam menyampaikan. Memang Rasulullah bersikap demikian? Kalau orang2 terpelajar atau yang mendalami agama saja belum bisa (baca:belum mau) berusaha meneladani Rasulullah, bagaimana kita mengajarkan pada orang awam?
Rasulullah pernah berperan sebagai anak, remaja, pemuda, ayah, teman, suami, panglima perang, pebisnis, pemuka agama, dan pemimpin negara. Paling tidak ada banyak hal yang telah beliau contohkan untuk kita semua. Karena sifatnya manusiawi, kita pun mampu meneladaninya, meski tak sama, paling tidak kita telah berusaha mencontohnya. Yah, semoga kita bisa memaknai maulid Nabi dengan lebih bijak, sarana muhasabah tuk kembali berupaya meneladani Rasulullah. Yup, meski tak yakin bisa, setidaknya kita harus berusaha....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar