Entah pegawai di instansi pemerintahan yang sudah remunerasi atau belum, entah pegawai yang belum berpangkat atau sudah pejabat, pasti memiliki peluang untuk berlaku menyalahi aturan demi keuntungan pribadi….
Sewaktu masih muda, mungkin masih ada yang berwarna “putih”….wajar,masih “polos”….
Tapi seiring waktu, bukan tidak mungkin berubah warna….entah karena pengaruh lingkungan yang memiliki warna lebih dominan, atau memang dia sendiri yang enggan mempertahankan warna putihnya (barang kali di berpikir, abu-abu atau warna pelangi itu lebih keren….).
Bukan tidak mungkin pula ada orang “lama” yang merasa dirinya “abu-abu”, pelangi, atau hitam sekalipun, sudah jenuh dan capek dengan warna-warna itu dan ingin kembali ke warna putih yang dibawanya sewaktu lahir dulu (mungkin ingin matching dengan warna kain kafannya bila meninggal nanti….eh,tapi klo dia pengin kain kafannya nanti bukan putih, tapi berwarna merah? krem? batik? hmmm….).
Wahwahwah….klo anda pengen jadi warna apa?
Terserah sih, maw jadi warna apa aja juga boleh, asal bersedia menerima konsekuensinya aja….baik di dunia…maupun di akhirat nanti….
Jumat, 25 April 2008
Jangan asal nuduh korupsi….
Diberbagai arena nongkrong bwat rakyat kecil seperti kita, sering dengan mudahnya para member tempat tongkrongan tersebut memberi label sarang korupsi bagi berbagai instansi atau lembaga pemerintah…mulai dari wakil rakyat di Senayan, pegawai-pegawai negeri kantoran, hingga aparat desa tingkat RT pun kena semprot….
Hmmm….mereka secara sadar atau tidak sering kali men-generalisir label tersebut (nggak jarang ngomongnya pake ngotot dan mimik wajah diserius-seriusin biar keliatan lebih meyakinkan,hehehe…).
Padahal itu kan ulah oknum, banyak juga yang nggak begitu kok….(cie…mbelain…)
Dan klo maw memperhatikan lebih lanjut, korupsi terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan,waspadalah!! (halah…jayus….)
Nah, kesempatan itu adalah kedudukan dan wewenang…..itu pokok masalahnya…
Mahasiswa berdemo soal korupsi? bagus itu, asal santun dan sesuai aturan….Tapi ingat, belum tentu klo kelak mahasiswa-mahasiswa itu jadi pejabat, mereka akan meneriakkan hal yang sama….bibit-bibit budaya “melanggar aturan untuk keuntungan pribadi” sudah tumbuh saat ada yang terbiasa menyontek sewaktu ujian….bibit-bibit budaya “merugikan keuangan Negara” pun sudah tumbuh saat ada diantara mereka yang sengaja nggak bayar tiket kereta api ato maen kucing-kucingan dengan kenek bus kota…
Pedagang kaki lima tanpa izin (satu kesatuan subjek nih…) bisa aja menjelek-jelekkan lembaga, instansi, atau oknum tertentu terkait dugaan (atau tuduhan) korupsi….mereka mudah mencela karena mereka tidak punya kedudukan dan wewenang yang sama dengan korban penuduhan tadi….belum tentu klo dikasi kedudukan dan wewenang yang sama mereka tidak korupsi….lha wong berjualan tanpa izin pun sebenarnya juga ada unsur korupsi, liat aja trotoar untuk pejalan kaki yang mereka pakai tuk mencari uang, itukan fasilitas umum, klo nggak bayar pajak atas izin usahanya ya sama aja korupsi kan?sama-sama merugikan Negara dan orang lain, serta menyalahi aturan demi keuntungan pribadi….
Eh,simpulannya apa?
Yup,
1. Jangan suka men-generalisir masalah, nggak semua aparat pemerintah bermental buruk seperti itu.
2. Boleh menyampaikan pendapat asal santun.
3. Jangan berlebihan dalam mengemukakan sesuatu, hal buruk sekalipun, dan jangan lupa introspeksi diri.
4. Pelajar dan mahasiswa jangan suka nyontek.
5. Pengguna angkutan umum harap menunaikan kewajibannya bayar ongkos atau tiket, daripada utangnya di tagih di akhirat.
6. Pedagang kaki lima yang belum minta izin ke aparat terkait, segera minta izin ya,jangan gunakan alasan ekonomi untuk menghalalkan segala cara. Bukankah itu juga ujian hidup yang harus disikapi dengan baik?
Hmmm….mereka secara sadar atau tidak sering kali men-generalisir label tersebut (nggak jarang ngomongnya pake ngotot dan mimik wajah diserius-seriusin biar keliatan lebih meyakinkan,hehehe…).
Padahal itu kan ulah oknum, banyak juga yang nggak begitu kok….(cie…mbelain…)
Dan klo maw memperhatikan lebih lanjut, korupsi terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan,waspadalah!! (halah…jayus….)
Nah, kesempatan itu adalah kedudukan dan wewenang…..itu pokok masalahnya…
Mahasiswa berdemo soal korupsi? bagus itu, asal santun dan sesuai aturan….Tapi ingat, belum tentu klo kelak mahasiswa-mahasiswa itu jadi pejabat, mereka akan meneriakkan hal yang sama….bibit-bibit budaya “melanggar aturan untuk keuntungan pribadi” sudah tumbuh saat ada yang terbiasa menyontek sewaktu ujian….bibit-bibit budaya “merugikan keuangan Negara” pun sudah tumbuh saat ada diantara mereka yang sengaja nggak bayar tiket kereta api ato maen kucing-kucingan dengan kenek bus kota…
Pedagang kaki lima tanpa izin (satu kesatuan subjek nih…) bisa aja menjelek-jelekkan lembaga, instansi, atau oknum tertentu terkait dugaan (atau tuduhan) korupsi….mereka mudah mencela karena mereka tidak punya kedudukan dan wewenang yang sama dengan korban penuduhan tadi….belum tentu klo dikasi kedudukan dan wewenang yang sama mereka tidak korupsi….lha wong berjualan tanpa izin pun sebenarnya juga ada unsur korupsi, liat aja trotoar untuk pejalan kaki yang mereka pakai tuk mencari uang, itukan fasilitas umum, klo nggak bayar pajak atas izin usahanya ya sama aja korupsi kan?sama-sama merugikan Negara dan orang lain, serta menyalahi aturan demi keuntungan pribadi….
Eh,simpulannya apa?
Yup,
1. Jangan suka men-generalisir masalah, nggak semua aparat pemerintah bermental buruk seperti itu.
2. Boleh menyampaikan pendapat asal santun.
3. Jangan berlebihan dalam mengemukakan sesuatu, hal buruk sekalipun, dan jangan lupa introspeksi diri.
4. Pelajar dan mahasiswa jangan suka nyontek.
5. Pengguna angkutan umum harap menunaikan kewajibannya bayar ongkos atau tiket, daripada utangnya di tagih di akhirat.
6. Pedagang kaki lima yang belum minta izin ke aparat terkait, segera minta izin ya,jangan gunakan alasan ekonomi untuk menghalalkan segala cara. Bukankah itu juga ujian hidup yang harus disikapi dengan baik?
Tinjauan hukum uang aneh
Sudah rahasia umum kalau di instansi atau lembaga pemerintahan serta organisasi-organisasi yang dibiayai Negara, ada kemungkinan terjadi korupsi, entah kaitannya dengan intern maupun ekster. Tapi kan nggak semua gitu, makanya yang dibahas di bawah ini adalah kondisi ketika ada unsur korupsi atau aliran uang syubhat (meragukan) aja…
Hukum secara garis besar telah mengatur apa saja yang boleh diterima dan apa yang tidak boleh diterima, bahkan dalam kode etik instansi masing-masing pun, seharusnya, telah dijelaskan. Tapi terkadang aturan teoritis tersebut susah diterapkan di lapangan terkait pertimbangan subjektif setiap orang yang merasa tidak dimungkinkannya untuk berlaku reaktif. Tidak jarang, sebagian orang merasa tidak bisa mengelak untuk menerima uang tersebut.
Ditinjau dari segi hukum, ketika kita menerima uang atau barang yang tidak semestinya kita terima, itu sudah termasuk delik, apapun alasannya (mmm….delik itu perkara yang memiliki dampak hukum, atau sejenisnya lah, aq lupa pengertian pastinya...). Dengan menerimanya, berarti segala resiko yang melekat pada uang atau barang tersebut juga kita terima.
Untuk masalah penyaluran uang atau barang yang kita anggap atau kita yakini bukan hak kita, memang secara hukum tidak diatur secara khusus. Mau di kembalikan ke kas Negara, disumbangkan ke aktivitas sosial, maupun aktivitas keagamaan, teuteup saja tidak menghilangkan delik-nya. Ya karena itu tadi, klo sudah “menerima” ya tetep salah di mata hukum, meski dimungkinkan adanya pembelaan terkait alasan-alasan subjektif yang mendasari kenapa kita bisa menerima dan ke mana kita menyalurkan dana tersebut (biar lebih ringkas, anggap saja semua dalam bentuk uang, klo ada yang dalam bentuk barang ya tinggal dikonversi dalam nilai uang).
Kemanapun penyalurannya, sebaiknya harus jelas dan ada buktinya. Dan yang lebih aman memang ke kas Negara karena setidaknya sudah mengurangi salah satu unsur korupsi, yaitu merugikan keuangan Negara untuk kepentingan pribadi (kan uangnya dah kita balikin), sehingga bisa meminimalkan sanksi hukum, bahkan mungkin terbebas dari masalah hukum. Namun ingat, ada yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Untuk yang sudah jelas “kadar” haramnya, sebaiknya tolak sejak awal, tunjukkan bahwa kita tidak akan pernah setuju dengan cara-cara seperti itu, tentunya dengan cara yang baik untuk menjaga keharmonisan dengan “lingkungan”. Namun seandainya merasa tidak berani menolak, atau unsur keterpaksaan lain, ya salurkan aja seperti pembahasan diatas.
2. Untuk yang masih meragukan, sebaiknya tanyakan lebih lanjut asal-usul dan alasan kenapa bisa diserahkan ke kita. Sapa tau itu memang halal, baik dari segi hukum maupun etika, contohnya rekan-rekan seruangan rela honor dari surat tugas mereka di potong untuk rekan-rekan lainnya yang ikut kerja namun tidak masuk dalam surat tugas tersebut. Kalau masalh uang syubhat memang mengandalkan pertimbangan subjektif, dan sangat pada tergantung “warna” kita. Klo yakin halal kan bisa menenteramkan hati, tapi klo benar-benar tidak yakin keabsahannya, ya salurkan aja.
Pertanyaan-pertanyaan NYELENEH…..
1. Kalau saya terpaksa menerima tapi tidak saya salurkan, gimana?
Jawab: Itu sih malu-malu mau….dari segi hukum jelas salah dan tidak ada unsur yang memungkinkan pembelaan….dari segi agama apalagi….meski kepastian dosa atau tidaknya adalah wewenang Allah SWT, tapi sebagai manusia yang diberi akal untuk memahami “ayat-ayat cinta”-Nya, kita bisa nebak klo itu dosa. Hukum Negara bisa diakalin, tapi hukum Allah SWT???
2. Kalau saya salurkan tapi cuma sebagian, gimana?
Jawab: Itu mah sami wawon, padha bae…..sama dengan yang nomor satu tuh…..ini nanya untuk cari kebenaran, atau cuma mau nyari pembenaran???
3. Bagaimana bila pengembalian ke kas Negara dilakukan setelah kasusnya mencuat? Kabarnya aparat hukum pun tidak mempermasalahkan ketika beberapa pejabat melakukannya? Gimana tuh?
Jawab: Aneh memang, dan rasanya harus ditinjau kembali. Coba pikir, baru mengembalikan bila sudah jadi kasus, nah, kalau belum jadi kasus apa juga dikembalikan? Seharusnya yang seperti itu juga nggak bener….
4. Kadang kita kan nggak enak menolaknya, bahkan bisa dianggap menghina yang memberi….truz gimana?
Jawab: Untuk uang syubhat, seperti pembahasan diatas. Untuk yang jelas nggak bener ya ditolak aja semampunya dengan cara-cara yang santun, minta mereka juga menghargai prinsip kita, daripada kita harus mempertanggungjawabkan uang itu di dunia dan di akherat??? Pokoknya semua langkah pasti ada resikonya.
5. Apa kita harus melaporkan hal-hal seperti ini ke pihak yang berwenang? Ntar resikonya gimana?
Jawab: Itu sih tergantung pertimbangan subjektif masing-masing, kalau berani dan dirasa memungkinkan ya laporkan saja, masalah nanti dimusuhi atau dianggap cari muka ya itu memang resikonya. Kalau tidak berani atau tidak memungkinkan melapor ya sudah, yang penting keukeuh dengan prinsip pribadi, sembari melakukan langkah-langkah preventif. Pihak yang mengalami sendiri tentu lebih mengerti kondisi dan tahu jalan mana yang sebaiknya ditempuh.
6. Ada nggak landasan hukum yang mengatur mengenai “terpaksa menerima” dan penyalurannya?
Jawab: Nggak ada, hukum cuma mengatur kalau menerima itu nggak bener, apapun alasannya. Seandainya ada orang “bersih” yang ingin menyalurkan uang itu kembali, ke kas Negara sekalipun, tetap tidak menghilangkan delik akibat “menerima” tadi. Meskipun demikian, unsur terpaksa dan penyaluran yang jelas bisa dijadikan pembelaan bila kelak hal tersebut menjadi kasus. Orang berniat baik pasti dihargai. Tapi jangan salah, dunia peradilan tidak sesederhana itu, banyak juga orang “baik” yang jadi korban. Belum tentu yang sekarang dipenjarakan itu adalah orang yang benar-benar bersalah, makanya hati-hati dengan menolak sejak awal atau memiliki cara penyaluran kembali yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Kalau sudah begitu tapi masih tetap dianggap bersalah oleh hukum, ya sudah, itu musibah di dunia, yang penting Allah SWT Maha Mengetahui….
7. Kalau setor ke kas Negara, pasti aman ya?
Jawab: Seperti yang kita bahas diatas, tetap tidak menghilangkan delik-nya. Tapi biasanya hakim akan memiliki pertimbangan berbeda, dan memungkinkan adanya keringanan bahkan pembebasan dari konsekuensi hukum.
8. Sewaktu setor kan ngisi formulir tuh, nah, nanti dari daftar penyetor kas Negara bisa ketahuan instansi atau lembaganya dong, ntar malah dianggap mencemarkan nama instansi atau lembaga karena memberi indikasi penyimpangan. Enaknya gimana?
Jawab: Sebenarnya nggak apa-apa kalau kejadiannya begitu, bisa dianggap melapor secara “halus”. Tapi kalau tidak ingin membawa-bawa nama instansi atau lembaga ya mudah saja, gunakan transfer melalui rekening pribadi yang tidak “mengarahkan” atau tidak mengisi secara detail formulir yang disediakan. Yang penting jangan sampai gara-gara sedikit menyamarkan identitas malah mengaburkan bukti bahwa kita yang setor, kalau ternyata jadi kasus beneran dan kita tidak bisa membuktikan kan malah gawat….
9. Kalau penyalurannya ke lembaga sosial atau keagamaan?
Jawab: Silakan aja, asal bisa mempertanggungjawabkan, hal tersebut juga bisa menjadi unsur pertimbangan yang meringankan. Tapi, penyaluran diluar kas Negara tidak bisa disebut “mengembalikan kerugian Negara” karena uangnya memang tidak kembali ke Negara, sehingga efek “meringankannya” tidak sama dengan penyetoran ke kas Negara. Yah, sekali lagi, setiap langkah ada resikonya.
Nah, hal-hal diatas adalah pengembangan (belum semua sih, disinggung di bagian lain aja) dari hasil konsultasi dengan Bapak Hening Tyastanto yang merupakan Kepala Direktorat Konsultasi Hukum dan Kepaniteraan Kerugian Negara di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (maaf kalau salah nyebut nama jabatan). Ingat, sekali lagi ini adalah pengembangan hasil konsultasi, jadi baik bahasan maupun bagian tanya jawab bukanlah ”rekaman” pembicaraan, melainkan pokok pembicaraan yang di susun ulang agar lebih mudah di mengerti (maklum, ribet banget kalau sudah berurusan dengan hukum, harus hati-hati ngomong....lha wong setelah menyampaikan surat permohonan aja staf beliau mengatakan bahwa itu sudah sebagai pengakuan di mata hukum, walah...langsung panas dingin, deg2an juga....hehe....).
Kenapa tanya ke BPK? Ya iyalah, BPK kan Pemeriksa Keuangan Negara, tentunya sangat tepat bila dimintai arahan terkait permasalahan ini. Kalau belum puas, sampaikan aja, nanti kita sama-sama belajar lebih banyak lagi.....
Oukey, pembahasan ini focus pada aspek hukum atas uang yang kita rasa bukan hak kita namun secara terpaksa kita terima...klo dari aspek agama jelas, nggak perlu diperdebatkan, Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Adil dalam menilai hamba-Nya…Yah, semoga setiap langkah kita senantiasa terhindar dari kehinaan amalan...amin…
Hukum secara garis besar telah mengatur apa saja yang boleh diterima dan apa yang tidak boleh diterima, bahkan dalam kode etik instansi masing-masing pun, seharusnya, telah dijelaskan. Tapi terkadang aturan teoritis tersebut susah diterapkan di lapangan terkait pertimbangan subjektif setiap orang yang merasa tidak dimungkinkannya untuk berlaku reaktif. Tidak jarang, sebagian orang merasa tidak bisa mengelak untuk menerima uang tersebut.
Ditinjau dari segi hukum, ketika kita menerima uang atau barang yang tidak semestinya kita terima, itu sudah termasuk delik, apapun alasannya (mmm….delik itu perkara yang memiliki dampak hukum, atau sejenisnya lah, aq lupa pengertian pastinya...). Dengan menerimanya, berarti segala resiko yang melekat pada uang atau barang tersebut juga kita terima.
Untuk masalah penyaluran uang atau barang yang kita anggap atau kita yakini bukan hak kita, memang secara hukum tidak diatur secara khusus. Mau di kembalikan ke kas Negara, disumbangkan ke aktivitas sosial, maupun aktivitas keagamaan, teuteup saja tidak menghilangkan delik-nya. Ya karena itu tadi, klo sudah “menerima” ya tetep salah di mata hukum, meski dimungkinkan adanya pembelaan terkait alasan-alasan subjektif yang mendasari kenapa kita bisa menerima dan ke mana kita menyalurkan dana tersebut (biar lebih ringkas, anggap saja semua dalam bentuk uang, klo ada yang dalam bentuk barang ya tinggal dikonversi dalam nilai uang).
Kemanapun penyalurannya, sebaiknya harus jelas dan ada buktinya. Dan yang lebih aman memang ke kas Negara karena setidaknya sudah mengurangi salah satu unsur korupsi, yaitu merugikan keuangan Negara untuk kepentingan pribadi (kan uangnya dah kita balikin), sehingga bisa meminimalkan sanksi hukum, bahkan mungkin terbebas dari masalah hukum. Namun ingat, ada yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Untuk yang sudah jelas “kadar” haramnya, sebaiknya tolak sejak awal, tunjukkan bahwa kita tidak akan pernah setuju dengan cara-cara seperti itu, tentunya dengan cara yang baik untuk menjaga keharmonisan dengan “lingkungan”. Namun seandainya merasa tidak berani menolak, atau unsur keterpaksaan lain, ya salurkan aja seperti pembahasan diatas.
2. Untuk yang masih meragukan, sebaiknya tanyakan lebih lanjut asal-usul dan alasan kenapa bisa diserahkan ke kita. Sapa tau itu memang halal, baik dari segi hukum maupun etika, contohnya rekan-rekan seruangan rela honor dari surat tugas mereka di potong untuk rekan-rekan lainnya yang ikut kerja namun tidak masuk dalam surat tugas tersebut. Kalau masalh uang syubhat memang mengandalkan pertimbangan subjektif, dan sangat pada tergantung “warna” kita. Klo yakin halal kan bisa menenteramkan hati, tapi klo benar-benar tidak yakin keabsahannya, ya salurkan aja.
Pertanyaan-pertanyaan NYELENEH…..
1. Kalau saya terpaksa menerima tapi tidak saya salurkan, gimana?
Jawab: Itu sih malu-malu mau….dari segi hukum jelas salah dan tidak ada unsur yang memungkinkan pembelaan….dari segi agama apalagi….meski kepastian dosa atau tidaknya adalah wewenang Allah SWT, tapi sebagai manusia yang diberi akal untuk memahami “ayat-ayat cinta”-Nya, kita bisa nebak klo itu dosa. Hukum Negara bisa diakalin, tapi hukum Allah SWT???
2. Kalau saya salurkan tapi cuma sebagian, gimana?
Jawab: Itu mah sami wawon, padha bae…..sama dengan yang nomor satu tuh…..ini nanya untuk cari kebenaran, atau cuma mau nyari pembenaran???
3. Bagaimana bila pengembalian ke kas Negara dilakukan setelah kasusnya mencuat? Kabarnya aparat hukum pun tidak mempermasalahkan ketika beberapa pejabat melakukannya? Gimana tuh?
Jawab: Aneh memang, dan rasanya harus ditinjau kembali. Coba pikir, baru mengembalikan bila sudah jadi kasus, nah, kalau belum jadi kasus apa juga dikembalikan? Seharusnya yang seperti itu juga nggak bener….
4. Kadang kita kan nggak enak menolaknya, bahkan bisa dianggap menghina yang memberi….truz gimana?
Jawab: Untuk uang syubhat, seperti pembahasan diatas. Untuk yang jelas nggak bener ya ditolak aja semampunya dengan cara-cara yang santun, minta mereka juga menghargai prinsip kita, daripada kita harus mempertanggungjawabkan uang itu di dunia dan di akherat??? Pokoknya semua langkah pasti ada resikonya.
5. Apa kita harus melaporkan hal-hal seperti ini ke pihak yang berwenang? Ntar resikonya gimana?
Jawab: Itu sih tergantung pertimbangan subjektif masing-masing, kalau berani dan dirasa memungkinkan ya laporkan saja, masalah nanti dimusuhi atau dianggap cari muka ya itu memang resikonya. Kalau tidak berani atau tidak memungkinkan melapor ya sudah, yang penting keukeuh dengan prinsip pribadi, sembari melakukan langkah-langkah preventif. Pihak yang mengalami sendiri tentu lebih mengerti kondisi dan tahu jalan mana yang sebaiknya ditempuh.
6. Ada nggak landasan hukum yang mengatur mengenai “terpaksa menerima” dan penyalurannya?
Jawab: Nggak ada, hukum cuma mengatur kalau menerima itu nggak bener, apapun alasannya. Seandainya ada orang “bersih” yang ingin menyalurkan uang itu kembali, ke kas Negara sekalipun, tetap tidak menghilangkan delik akibat “menerima” tadi. Meskipun demikian, unsur terpaksa dan penyaluran yang jelas bisa dijadikan pembelaan bila kelak hal tersebut menjadi kasus. Orang berniat baik pasti dihargai. Tapi jangan salah, dunia peradilan tidak sesederhana itu, banyak juga orang “baik” yang jadi korban. Belum tentu yang sekarang dipenjarakan itu adalah orang yang benar-benar bersalah, makanya hati-hati dengan menolak sejak awal atau memiliki cara penyaluran kembali yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Kalau sudah begitu tapi masih tetap dianggap bersalah oleh hukum, ya sudah, itu musibah di dunia, yang penting Allah SWT Maha Mengetahui….
7. Kalau setor ke kas Negara, pasti aman ya?
Jawab: Seperti yang kita bahas diatas, tetap tidak menghilangkan delik-nya. Tapi biasanya hakim akan memiliki pertimbangan berbeda, dan memungkinkan adanya keringanan bahkan pembebasan dari konsekuensi hukum.
8. Sewaktu setor kan ngisi formulir tuh, nah, nanti dari daftar penyetor kas Negara bisa ketahuan instansi atau lembaganya dong, ntar malah dianggap mencemarkan nama instansi atau lembaga karena memberi indikasi penyimpangan. Enaknya gimana?
Jawab: Sebenarnya nggak apa-apa kalau kejadiannya begitu, bisa dianggap melapor secara “halus”. Tapi kalau tidak ingin membawa-bawa nama instansi atau lembaga ya mudah saja, gunakan transfer melalui rekening pribadi yang tidak “mengarahkan” atau tidak mengisi secara detail formulir yang disediakan. Yang penting jangan sampai gara-gara sedikit menyamarkan identitas malah mengaburkan bukti bahwa kita yang setor, kalau ternyata jadi kasus beneran dan kita tidak bisa membuktikan kan malah gawat….
9. Kalau penyalurannya ke lembaga sosial atau keagamaan?
Jawab: Silakan aja, asal bisa mempertanggungjawabkan, hal tersebut juga bisa menjadi unsur pertimbangan yang meringankan. Tapi, penyaluran diluar kas Negara tidak bisa disebut “mengembalikan kerugian Negara” karena uangnya memang tidak kembali ke Negara, sehingga efek “meringankannya” tidak sama dengan penyetoran ke kas Negara. Yah, sekali lagi, setiap langkah ada resikonya.
Nah, hal-hal diatas adalah pengembangan (belum semua sih, disinggung di bagian lain aja) dari hasil konsultasi dengan Bapak Hening Tyastanto yang merupakan Kepala Direktorat Konsultasi Hukum dan Kepaniteraan Kerugian Negara di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (maaf kalau salah nyebut nama jabatan). Ingat, sekali lagi ini adalah pengembangan hasil konsultasi, jadi baik bahasan maupun bagian tanya jawab bukanlah ”rekaman” pembicaraan, melainkan pokok pembicaraan yang di susun ulang agar lebih mudah di mengerti (maklum, ribet banget kalau sudah berurusan dengan hukum, harus hati-hati ngomong....lha wong setelah menyampaikan surat permohonan aja staf beliau mengatakan bahwa itu sudah sebagai pengakuan di mata hukum, walah...langsung panas dingin, deg2an juga....hehe....).
Kenapa tanya ke BPK? Ya iyalah, BPK kan Pemeriksa Keuangan Negara, tentunya sangat tepat bila dimintai arahan terkait permasalahan ini. Kalau belum puas, sampaikan aja, nanti kita sama-sama belajar lebih banyak lagi.....
Oukey, pembahasan ini focus pada aspek hukum atas uang yang kita rasa bukan hak kita namun secara terpaksa kita terima...klo dari aspek agama jelas, nggak perlu diperdebatkan, Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Adil dalam menilai hamba-Nya…Yah, semoga setiap langkah kita senantiasa terhindar dari kehinaan amalan...amin…
Kamis, 17 April 2008
Jangan Hinakan Nikmat Alloh
dakwatuna.com - Hidup kadang tak ubahnya seperti untaian benang panjang yang punya dua warna. Silih berganti warna itu menghias untaian benang. Ada warna suka, ada duka. Benang akan tampak menarik ketika terhias suka. Dan, akan dibenci ketika warna duka terlalui.
Namun demikian, sebagian orang kadang lupa bahwa seperti itulah warna kehidupan. Mungkin, keterbatasan rasa manusia yang bahagia ketika suka. Dan sedih ketika duka. Tak jarang, keterbatasan itu pun menggiring pandangannya kepada Pembuat Hidup. Bahwa, suka adalah kemuliaanNya. Dan, duka adalah penghinaanNya.
Dalam surah Al-Fajr ayat 15 dan 16, Allah swt berfirman, “Ada pun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanKu. Ada pun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.”
Fakta takaran kemuliaan dan kehinaan dalam pandangan sebagian manusia berkait dengan seberapa besar anugerah Allah berupa kenikmatan. Semakin kaya seseorang, semakin besar kemuliaan yang ia terima. Dan semakin miskin seseorang, seperti itulah kehinaan yang Allah berikan.
Sebagian manusia mungkin merasa sulit untuk menterjemahkan bahwa hidup bukan dua takaran tadi. Teramat sulit buat mereka untuk menggunakan kacamata iman bahwa hidup adalah ujian. Dan ujian tidak melulu melekat pada satu warna. Dalam duka memang ada ujian. Pun, dalam suka ada ujian.
Penjelasannya begitu gamblang ketika Allah swt berfirman dalam surah Al-Anbiyaa ayat 35. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
Seperti itulah Thalut ketika sang komandan ini ingin mendapatkan bukti kualitas pasukannya. Ia tidak ingin para pejuangnya berorientasi hanya pada kesenangan hidup. Dan tidak lagi punya semangat ketika hidup tak lagi mampu memberikan kesenangan. Karena itu, mereka harus diuji.
Ujian pun dimulai. Orang yang berkualitas biasanya akan menangkap sebuah isyarat tes. Terlebih ketika kisi-kisi tes itu sudah digambarkan begitu jelas: ketika kita melalui sungai, dilarang meminum airnya kecuali dengan cidukan tangan. Penjelasan yang begitu jelas. Tapi, begitulah orang yang tak berkualitas. Penjelasan tinggallah penjelasan. Kelakuan tak juga berubah. Kenyataannya, sedikit sekali dari pasukan itu yang menikmati air sungai dengan cidukan tangan. Selebihnya, larut dalam kenikmatan. (Al-Baqarah: 249)
Jadi, ketika nikmat Allah diterjemahkan hanya dari satu sisi yaitu kesenangan, di situlah orang terjebak dalam kedangkalan nalarnya sendiri. Mereka akan bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, kepada Yang Maha Pencipta, atas segala nikmatNya. Namun, ketika anugerah menempati sisi lain yang tak sesuai harapan, syukur dan terima kasihnya lenyap. Syukurnya menguap bersama kecewanya: Allah menghinakan saya.
Padahal, cocok atau tidaknya sebuah harapan dengan kenyataan yang Allah berikan, kalkulasinya begitu luas. Mungkin, kita pernah kecewa ketika kereta yang kita kejar-kejar sehingga harus ditebus dengan lewatnya sarapan pagi, ternyata harus berlalu mendahului kita. Kita kecewa. Padahal, itulah nikmat Allah. Karena, kereta itu ternyata mengalami kecelakaan. Allah menyelamatkan kita dengan sesuatu yang sebelumnya kita anggap mengecewakan.
Kita mungkin pernah kecewa ketika calon suami atau isteri yang selangkah lagi akan syah menjadi pendamping, menyatakan pembatalan sepihak. Kita kecewa. Padahal, di saat itulah Allah sedang memberikan kebaikan. Karena ternyata, beberapa bulan kemudian sang calon meninggal dunia karena penyakit dalam yang kronis.
Kekecewaan-kekecewaan itu mungkin bisa dianggap wajar. Karena ada sesuatu yang belum kita peroleh. Dan sesuatu itu memang mahal. Bahkan, seorang Nabi Musa a.s. pun harus bersusah payah mendapatkan sesuatu itu. Dan sayangnya, ia sempat gagal di tengah jalan.
Pelajaran itu bisa kita lihat ketika Allah swt mengisahkan dua hambaNya yang mulia: Musa a.s. dan Khidr a.s. Dalam surah Al-Kahfi ayat 65 hingga 82, Allah swt. menggambarkan bagaimana Musa a.s. gagal menangkap maksud tiga tindakan yang tidak menyenangkan Khidr a.s. Yaitu, melubangi perahu-perahu nelayan, membunuh anak kecil, dan menegakkan dinding yang hampir roboh. Padahal, ketiga tindakan Khidr a.s. itu punya maksud yang amat baik. Di situlah Musa a.s. belajar tentang anugerah kebaikan dan keburukan.
Jadi, ridha atas segala sesuatu yang Allah berikan adalah pijakan awal dari lahirnya rasa syukur seorang hamba. Terhadap anugerah apa pun: besar atau kecil. Ridha dengan anugerah yang besar adalah kesiapan diri agar senantiasa menjaga amanah, agar nikmat tidak terselewengkan dalam maksiat. Dan ridha dengan yang kecil adalah kebersihan hati dari buruk sangka atas pemberian Allah.
Seorang sahabat Rasul pernah terperanjat ketika malam pertamanya tiba. Ia seperti hampir tak menerima kenyataan wajah isterinya. Ada keraguan terselip di situ. Bahkan, ketidaksukaan pun nyaris mendominasi hatinya. Seolah, hatinya bicara, “Ah, seperti inikah nikmat yang Allah berikan kepada saya?”
Namun, semua itu sirna seketika saat sang isteri mampu menangkap gelisah itu. Ia langsung membacakan sebuah ayat di surah An-Nisa. “Dan bergaullah dengan mereka (isteri-isteri) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)
Ketika ridha menutup segala prasangka, syukur terungkap dengan seketika. Ia muncul dari hati yang dalam. Bersih tanpa pamrih. Lahir dari kesadaran bahwa tak seorang pun yang pernah dan akan memiliki sesuatu. Tak semua kesenangan melahirkan bahagia. Dan tak semua kesusahan membawa celaka. Semuanya pinjaman dari Allah. Dan akan kembali kepada-Nya pula.
Jangan hinakan nikmat Allah. Syukurilah anugerah Allah apa adanya. Justru, dalam keridhaan dan syukur itulah kenikmatan terasa ganda. Kita tidak sedang menikmati anugerah fisik saja. Melainkan, belaian kasih sayang Allah yang tak hingga. Nikmatilah warna-warni hidup. Karena hidup memang penuh warna.
Namun demikian, sebagian orang kadang lupa bahwa seperti itulah warna kehidupan. Mungkin, keterbatasan rasa manusia yang bahagia ketika suka. Dan sedih ketika duka. Tak jarang, keterbatasan itu pun menggiring pandangannya kepada Pembuat Hidup. Bahwa, suka adalah kemuliaanNya. Dan, duka adalah penghinaanNya.
Dalam surah Al-Fajr ayat 15 dan 16, Allah swt berfirman, “Ada pun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanKu. Ada pun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.”
Fakta takaran kemuliaan dan kehinaan dalam pandangan sebagian manusia berkait dengan seberapa besar anugerah Allah berupa kenikmatan. Semakin kaya seseorang, semakin besar kemuliaan yang ia terima. Dan semakin miskin seseorang, seperti itulah kehinaan yang Allah berikan.
Sebagian manusia mungkin merasa sulit untuk menterjemahkan bahwa hidup bukan dua takaran tadi. Teramat sulit buat mereka untuk menggunakan kacamata iman bahwa hidup adalah ujian. Dan ujian tidak melulu melekat pada satu warna. Dalam duka memang ada ujian. Pun, dalam suka ada ujian.
Penjelasannya begitu gamblang ketika Allah swt berfirman dalam surah Al-Anbiyaa ayat 35. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
Seperti itulah Thalut ketika sang komandan ini ingin mendapatkan bukti kualitas pasukannya. Ia tidak ingin para pejuangnya berorientasi hanya pada kesenangan hidup. Dan tidak lagi punya semangat ketika hidup tak lagi mampu memberikan kesenangan. Karena itu, mereka harus diuji.
Ujian pun dimulai. Orang yang berkualitas biasanya akan menangkap sebuah isyarat tes. Terlebih ketika kisi-kisi tes itu sudah digambarkan begitu jelas: ketika kita melalui sungai, dilarang meminum airnya kecuali dengan cidukan tangan. Penjelasan yang begitu jelas. Tapi, begitulah orang yang tak berkualitas. Penjelasan tinggallah penjelasan. Kelakuan tak juga berubah. Kenyataannya, sedikit sekali dari pasukan itu yang menikmati air sungai dengan cidukan tangan. Selebihnya, larut dalam kenikmatan. (Al-Baqarah: 249)
Jadi, ketika nikmat Allah diterjemahkan hanya dari satu sisi yaitu kesenangan, di situlah orang terjebak dalam kedangkalan nalarnya sendiri. Mereka akan bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, kepada Yang Maha Pencipta, atas segala nikmatNya. Namun, ketika anugerah menempati sisi lain yang tak sesuai harapan, syukur dan terima kasihnya lenyap. Syukurnya menguap bersama kecewanya: Allah menghinakan saya.
Padahal, cocok atau tidaknya sebuah harapan dengan kenyataan yang Allah berikan, kalkulasinya begitu luas. Mungkin, kita pernah kecewa ketika kereta yang kita kejar-kejar sehingga harus ditebus dengan lewatnya sarapan pagi, ternyata harus berlalu mendahului kita. Kita kecewa. Padahal, itulah nikmat Allah. Karena, kereta itu ternyata mengalami kecelakaan. Allah menyelamatkan kita dengan sesuatu yang sebelumnya kita anggap mengecewakan.
Kita mungkin pernah kecewa ketika calon suami atau isteri yang selangkah lagi akan syah menjadi pendamping, menyatakan pembatalan sepihak. Kita kecewa. Padahal, di saat itulah Allah sedang memberikan kebaikan. Karena ternyata, beberapa bulan kemudian sang calon meninggal dunia karena penyakit dalam yang kronis.
Kekecewaan-kekecewaan itu mungkin bisa dianggap wajar. Karena ada sesuatu yang belum kita peroleh. Dan sesuatu itu memang mahal. Bahkan, seorang Nabi Musa a.s. pun harus bersusah payah mendapatkan sesuatu itu. Dan sayangnya, ia sempat gagal di tengah jalan.
Pelajaran itu bisa kita lihat ketika Allah swt mengisahkan dua hambaNya yang mulia: Musa a.s. dan Khidr a.s. Dalam surah Al-Kahfi ayat 65 hingga 82, Allah swt. menggambarkan bagaimana Musa a.s. gagal menangkap maksud tiga tindakan yang tidak menyenangkan Khidr a.s. Yaitu, melubangi perahu-perahu nelayan, membunuh anak kecil, dan menegakkan dinding yang hampir roboh. Padahal, ketiga tindakan Khidr a.s. itu punya maksud yang amat baik. Di situlah Musa a.s. belajar tentang anugerah kebaikan dan keburukan.
Jadi, ridha atas segala sesuatu yang Allah berikan adalah pijakan awal dari lahirnya rasa syukur seorang hamba. Terhadap anugerah apa pun: besar atau kecil. Ridha dengan anugerah yang besar adalah kesiapan diri agar senantiasa menjaga amanah, agar nikmat tidak terselewengkan dalam maksiat. Dan ridha dengan yang kecil adalah kebersihan hati dari buruk sangka atas pemberian Allah.
Seorang sahabat Rasul pernah terperanjat ketika malam pertamanya tiba. Ia seperti hampir tak menerima kenyataan wajah isterinya. Ada keraguan terselip di situ. Bahkan, ketidaksukaan pun nyaris mendominasi hatinya. Seolah, hatinya bicara, “Ah, seperti inikah nikmat yang Allah berikan kepada saya?”
Namun, semua itu sirna seketika saat sang isteri mampu menangkap gelisah itu. Ia langsung membacakan sebuah ayat di surah An-Nisa. “Dan bergaullah dengan mereka (isteri-isteri) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)
Ketika ridha menutup segala prasangka, syukur terungkap dengan seketika. Ia muncul dari hati yang dalam. Bersih tanpa pamrih. Lahir dari kesadaran bahwa tak seorang pun yang pernah dan akan memiliki sesuatu. Tak semua kesenangan melahirkan bahagia. Dan tak semua kesusahan membawa celaka. Semuanya pinjaman dari Allah. Dan akan kembali kepada-Nya pula.
Jangan hinakan nikmat Allah. Syukurilah anugerah Allah apa adanya. Justru, dalam keridhaan dan syukur itulah kenikmatan terasa ganda. Kita tidak sedang menikmati anugerah fisik saja. Melainkan, belaian kasih sayang Allah yang tak hingga. Nikmatilah warna-warni hidup. Karena hidup memang penuh warna.
Bwat Saudara2q yang "Ahmadiyah"
Mungkin semua kini terasa sesak bagi kalian....
Merasa dikucilkan, didzolimi, dikekang kebebasannya, bahkan dikecam....
Aku bisa merasakan perasaan itu, karena kalian tetap saudaraku, saudara se-bangsa, setidaknya....
Maaf bila perlakuan saudara-saudaraku yang lain telah menyakitimu....sungguh, mereka lakukan itu hanya untuk menjaga kesucian agama mereka, tentunya dengan cara yang berbeda-beda.
Menjaga kesucian? tunggu dulu, bukan berarti pernyataan ini aku tujukan untuk merendahkan apa yang kalian yakini. Itu hanya keyakinan oleh saudara-saudaraku yang lain dalam menyikapi keyakinan kalian...
Kawan, mereka marah karena kalian mengatasnamakan Islam, sedangkan menurut mereka Islam bukan seperti yang kalian yakini....perbedaan memang wajar karena setiap orang berhak memiliki pemikiran sendiri. Namun dalam hal Dienul Islam, jangan pernah menyinggung akidah mereka, itu tidak bisa di toleransi.
Kebebasan bukan berarti tanpa batasan...
Nah, sekarang kalian bisa mengerti, kenapa hampir semua ormas Islam bisa kompak tidak setuju dengan sikap kalian kan? padahal dalam beberapa hal, ormas-ormas tersebut tidak sepenuhnya sama....yah, perbedaan di antara mereka hanyalah perbedaan "cara" dan organisasi semata, masih bisa ditoleransi oleh ormas-ormas lainnya.....sedangkan dengan kalian, perbedaannya sudah menyinggung akidah yang tentunya tidak bisa ditoleransi, entah itu kalian sadari atau tidak...sedangkan kalian paham benar, bahwa orang-orang kalian anggap "awam" sepertiku pun rela mengorbankan segalanya demi Islam, senang hati malah...
Kawan, hargailah kepercayaan mereka dengan tidak mengusik akidah mereka, sebagaimana kalian ingin kepercayaan kalian dihargai dengan diberi apa yang kalian sebut kebebasan dalam beragama. Kalian merasa terluka ketika mereka mengecam, mereka pun terluka ketika kalian menodai agama mereka dengan kepercayaan yang jelas-jelas dilarang dalam Al-Qur'an, karena kalian tetap masih mengatasnamakan Islam...
Bila kalian ingin bertahan, jangan bawa-bawa nama Islam, deklarasikan saja sebagai agama baru....Mana mungkin mereka biarkan semua pihak mengatasnamakan Islam, padahal Islam telah memberi batasan yang jelas...
Boleh berbeda dalam beberapa hal, tapi jangan bertentangan dengan akidah, dan harus ada dasar yang jelas dan meyakinkan sesuai Qur'an dan Sunnah Rasulullah Muhammad S.A.W.......
Boleh memegang teguh keyakinan, justru itu harus, tapi bukan berarti tidak mau belajar dan tidak mau meninjau kembali keyakinan dengan memperhatikan saran dan masukan dari pihak lain...gigih dan keras kepala itu beda kawan....
Saudaraku....mereka juga bukan makhluk yang terhindar dari kesalahan, tapi paling tidak, mereka ingin menjaga Izzah agamanya....
Mari kita belajar bersama, saling mengoreksi kembali apa yang kita yakini....percayalah, Alloh SWT selalu menghargai hamba-Nya yang mau berusaha....
Hwehehe...Pren, aku memang lebih rendah pengetahuan agamanya dibanding kalian, aku percaya itu....aku cuma ingin kita saling mengingatkan kok...untukmu, untuk orang lain yang baca ini, dan untukku sendiri....
Merasa dikucilkan, didzolimi, dikekang kebebasannya, bahkan dikecam....
Aku bisa merasakan perasaan itu, karena kalian tetap saudaraku, saudara se-bangsa, setidaknya....
Maaf bila perlakuan saudara-saudaraku yang lain telah menyakitimu....sungguh, mereka lakukan itu hanya untuk menjaga kesucian agama mereka, tentunya dengan cara yang berbeda-beda.
Menjaga kesucian? tunggu dulu, bukan berarti pernyataan ini aku tujukan untuk merendahkan apa yang kalian yakini. Itu hanya keyakinan oleh saudara-saudaraku yang lain dalam menyikapi keyakinan kalian...
Kawan, mereka marah karena kalian mengatasnamakan Islam, sedangkan menurut mereka Islam bukan seperti yang kalian yakini....perbedaan memang wajar karena setiap orang berhak memiliki pemikiran sendiri. Namun dalam hal Dienul Islam, jangan pernah menyinggung akidah mereka, itu tidak bisa di toleransi.
Kebebasan bukan berarti tanpa batasan...
Nah, sekarang kalian bisa mengerti, kenapa hampir semua ormas Islam bisa kompak tidak setuju dengan sikap kalian kan? padahal dalam beberapa hal, ormas-ormas tersebut tidak sepenuhnya sama....yah, perbedaan di antara mereka hanyalah perbedaan "cara" dan organisasi semata, masih bisa ditoleransi oleh ormas-ormas lainnya.....sedangkan dengan kalian, perbedaannya sudah menyinggung akidah yang tentunya tidak bisa ditoleransi, entah itu kalian sadari atau tidak...sedangkan kalian paham benar, bahwa orang-orang kalian anggap "awam" sepertiku pun rela mengorbankan segalanya demi Islam, senang hati malah...
Kawan, hargailah kepercayaan mereka dengan tidak mengusik akidah mereka, sebagaimana kalian ingin kepercayaan kalian dihargai dengan diberi apa yang kalian sebut kebebasan dalam beragama. Kalian merasa terluka ketika mereka mengecam, mereka pun terluka ketika kalian menodai agama mereka dengan kepercayaan yang jelas-jelas dilarang dalam Al-Qur'an, karena kalian tetap masih mengatasnamakan Islam...
Bila kalian ingin bertahan, jangan bawa-bawa nama Islam, deklarasikan saja sebagai agama baru....Mana mungkin mereka biarkan semua pihak mengatasnamakan Islam, padahal Islam telah memberi batasan yang jelas...
Boleh berbeda dalam beberapa hal, tapi jangan bertentangan dengan akidah, dan harus ada dasar yang jelas dan meyakinkan sesuai Qur'an dan Sunnah Rasulullah Muhammad S.A.W.......
Boleh memegang teguh keyakinan, justru itu harus, tapi bukan berarti tidak mau belajar dan tidak mau meninjau kembali keyakinan dengan memperhatikan saran dan masukan dari pihak lain...gigih dan keras kepala itu beda kawan....
Saudaraku....mereka juga bukan makhluk yang terhindar dari kesalahan, tapi paling tidak, mereka ingin menjaga Izzah agamanya....
Mari kita belajar bersama, saling mengoreksi kembali apa yang kita yakini....percayalah, Alloh SWT selalu menghargai hamba-Nya yang mau berusaha....
Hwehehe...Pren, aku memang lebih rendah pengetahuan agamanya dibanding kalian, aku percaya itu....aku cuma ingin kita saling mengingatkan kok...untukmu, untuk orang lain yang baca ini, dan untukku sendiri....
Rabu, 16 April 2008
Jatuh Hati Ya?hwehehe
Jatuh hati?ah, silakan persepsikan sendiri....tapi smalem ada yang cerita soal itu, jadi ingat, banyak juga yang pernah diskusi soal begituan. Yang seru, kalau yang mengalaminya adalah orang-orang yang berprinsip "beda" dari kebanyakan orang (baca: "ikhwan" atau "akhwat", hehe..). Nah, untung masih "nyimpen" SMS yang mnurutku cukup mewakili apa yang seharusnya dilakukan...
Putriku, anggap saja suamimu kelak kini disampingmu. Dia tau apa yang kau rasa, kau pikir, dan kau lakukan dalam menyikapi lawan jenismu, siapapun itu. Sebagai istri yang baik, tentu kau akan menjaga perasaannya. Lakukan saja, apapun, seandainya kau yakin dia bisa memahaminya. Hindari, apapun, seandainya itu bisa membuatnya kecewa….
Putriku, dia pasti tau perasaan itu wajar, dan mungkin dia pun pernah mengalami hal yang sama. Namun alangkah bahagianya ia, bila istri yang dinikahinya benar-benar istimewa hatinya, untuk suaminya semata….
Nak, sikapi dengan bijak, demi kemuliaanmu dihadapan suamimu….cobalah tuk setia, meski dia belum benar-benar ada…karena Bapak yakin, kau pun senang diperlakukan seperti itu….
Nah, lain kali, klo ada yang cerita lagi, sampaikan aja seperti itu...klo yang cerita tu cowok, ya tinggal ganti kati "putriku" dengan "putraku" dan kata "Bapak" dengan "Ibu", beres dah....
Nb: G perlu nanya, "Bapak dan putrinya" itu siapa...
G perlu nanya, kenapa aq menyimpan SMS ini juga...hwehehe...
Putriku, anggap saja suamimu kelak kini disampingmu. Dia tau apa yang kau rasa, kau pikir, dan kau lakukan dalam menyikapi lawan jenismu, siapapun itu. Sebagai istri yang baik, tentu kau akan menjaga perasaannya. Lakukan saja, apapun, seandainya kau yakin dia bisa memahaminya. Hindari, apapun, seandainya itu bisa membuatnya kecewa….
Putriku, dia pasti tau perasaan itu wajar, dan mungkin dia pun pernah mengalami hal yang sama. Namun alangkah bahagianya ia, bila istri yang dinikahinya benar-benar istimewa hatinya, untuk suaminya semata….
Nak, sikapi dengan bijak, demi kemuliaanmu dihadapan suamimu….cobalah tuk setia, meski dia belum benar-benar ada…karena Bapak yakin, kau pun senang diperlakukan seperti itu….
Nah, lain kali, klo ada yang cerita lagi, sampaikan aja seperti itu...klo yang cerita tu cowok, ya tinggal ganti kati "putriku" dengan "putraku" dan kata "Bapak" dengan "Ibu", beres dah....
Nb: G perlu nanya, "Bapak dan putrinya" itu siapa...
G perlu nanya, kenapa aq menyimpan SMS ini juga...hwehehe...
Minggu, 13 April 2008
Dua Belas Tahun...
Oleh Dwi Indarti (Artikel Oase Iman eramuslim)
Dua belas tahun ….
Dua belas tahun, Ya Allah….ketika akhirnya KAU menjawab doa ku. Dua belas tahun, Ya Allah…waktu yang KAU berikan untukku agar mempersiapkan diri menerima pengabulan doa MU. Impian, harapan, cita-cita yang tersimpan jauh di lubuk hati yang terdalam selama dua belas tahun, akhirnya muncul ke permukaan, menjadi sebuah kenyataan.
Menyandang status sebagai seorang mahasiswa, mungkin bagi kebanyakan orang adalah hal yang biasa. Sebagian orang malah termuak-muak dengan predikat mahasiswa abadi. Pun, ada sebagian orang yang benci menjadi mahasiswa karna sebuah keterpaksaan. Tapi tidak bagiku…
Dua belas tahun yang lalu, ketika, dengan penuh perjuangan dan pengorbanan orang tua, aku bisa menyelesaikan SLTA, telah ku pendam jauh-jauh impian untuk meneruskan pendidikan ke bangku kuliah. Kenyataan yang terhampar dihadapanku menyadarkan aku ada hal-hal yang lebih penting untuk di lakukan. Orang tua yang sudah tak mampu lagi mencari nafkah, membuat kakak tertua terpaksa drop out dari sekolah ketika masih SD. Kakakku menangis berhari-hari minta pergi ke sekolah sebelum akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa dia hanya bisa mengikuti dengan teman-temannya sampai ke gerbang sekolah.
Beasiswa demi beasiswa membantuku tetap bertahan menikmati manisnya pendidikan hingga tamat SLTA. Bukan…bukan beasiswa untuk siswa berprestasi yang aku terima, karna aku tak termasuk dalam kategori itu, tetapi beasiswa bagi anak-anak miskin adalah kategoriku. Ah, tak mengapa…tak perlu malu karna itu toh bukan suatu aib, malah sebuah berkah yang harus di syukuri.
Dan aku masih mempunyai adik yang juga butuh pendidikan. Hal itu membuatku ingin cepat-cepat lulus sekolah dan membantu nafkah keluarga. Ku lihat orang tua ku semakin megap-megap dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Rumah kontrakan yang harus di bayar, harga sandang pangan kebutuhan pokok yang tak pernah kompromi, membuatku tak bisa menikmati masa-masa yang sering di sebut masa remaja yang paling indah. Sekolah sambil bekerja sebagai PRT adalah kegiatan yang aku jalani pada usia SMA. Usia yang dihabiskan oleh teman-teman sebayaku untuk bergaul, bergembira ria menikmati masa remaja yang ceria. Tapi, untuk apa aku melihat mereka yang nasibnya lebih baik dariku, membuat hati ini kotor saja. Masih banyak orang yang nasibnya tak seberuntung aku. Aku masih bisa sekolah, masih bisa makan cukup, dan masih banyak nikmat yang patut di syukuri ketimbang mengeluh.
Ketika tiba saat kelulusan sekolah, sementara teman-temanku, sibuk mengisi formulir UMPTN, aku juga sibuk mencari pinjaman koran untuk mencari iklan lowongan pekerjaan. Seringkali aku ikut menemani sahabatku ke kampus-kampus megah untuk mengurus pendaftaran. Senang rasanya hati ini berada di dalamnya, melihat orang-orang sibuk lalu lalang membawa tumpukan buku-buku. Wajah-wajah cerdas yang bahagia, pikirku. Dan kembali ku hibur diri ini dengan berkonsentrasi penuh mencari pekerjaan. Aku bertekad kuat untuk mengambil alih peran kedua orang tuaku dalam mencari nafkah, sambil berharap bisa menyisihkan sedikit tabungan agar menjadi bagian dari orang-orang berwajah cerdas itu.
Bersama kesulitan ada kemudahan. Alhamdulillah, tak lama kemudian aku mendapat pekerjaan di sebuah toko. Mulai ku jalani hari demi hari dengan penuh kesungguhan menjemput rejeki. Ku coba menyisihkan penghasilan untuk sebuah impian yang tersimpan di hati, namun adikku lebih membutuhkannya. Jalannya masih sangat panjang. Dia baru kelas 5 SD waktu itu dan aku tak ingin dia bernasib sama seperti abangku, kandas di tengah jalan. Adikku adalah tanggung jawabku. Maka, aku pun merasakan apa yang di rasakan oleh orang tuaku, betapa mahal biaya pendidikan. Tidak…aku tidak boleh menyerah. Adikku tak boleh sampai putus sekolah sebelum tamat sekolah.
Kembali ku kubur jauh-jauh impian itu setiap kali muncul ke permukaan. Pernah suatu saat, tanpa terasa air mata ini meleleh ketika aku duduk di halte depan sebuah kampus besar. Aku membayangkan menjadi salah satu di antara mereka dengan dandanan lucu karena sedang menjalani masa ospek awal tahun pelajaran. Duhai alangkah senangnya…
Tahun demi tahun aku bekerja, berusaha untuk keluar dari jerat kemiskinan, berusaha memperbaiki taraf perekonomian keluarga, berusaha menahan berbagai keinginan agar dapat menyisihkan sedikit rejeki untuk sebuah impian di hati. Ketika aku merasa simpananku sudah cukup untuk mewujudkan impian itu, ada keperluan lain yang muncul. Urgensi akan sebuah rumah kecil milik sendiri kemudian menjadi obsesiku. Tak mau terus menerus menjadi “kontraktor”, di tagih-tagih setiap bulannya membuat aku bermimpi akan sebuah rumah. Kembali, impian kuliah tenggelam …
Dan, dua belas tahun berlalu. Tiba saat impian itu benar-benar muncul ke permukaan dan menjelma menjadi sebuah kenyataan.
Saat ku tengok kembali ke masa lalu, rasa syukur tak terperi memenuhi rongga dadaku. Ternyata Allah mempunyai rencana, dan rencana itu terwujud indah pada pada waktunya. Allah mempersiapkan segalanya bagiku. Ketika adikku sudah bisa mandiri, ketika kami tak harus menumpang kontrakan lagi, ketika orang tuaku sudah tak perlu lagi membating tulang mencari nafkah, kini Allah mempergilirkan waktu bagiku untuk mewujudkan impianku
Alam semesta adalah kampus besar dan Allah adalah dosen tunggalnya. Dan DIA mengajarkan segala hal dengan sifat Rohman dan Rahim NYA, hanya untuk mereka yang mau membuka mata hati.
Duhai Allah, dua belas tahun adalah waktu yang KAU berikan bagiku untuk mempersiapkan diri menerima jawaban doa dari MU.
Dan bagaimana dengan doa ku yang lain, Ya Allah? (yang itu, tuuu….) Kapan dan bilakah KAU menjawab NYA…
“Allah tidak selalu memberi apa yang kita minta, tetapi DIA memberi apa yang kita butuhkan. “
Dua belas tahun ….
Dua belas tahun, Ya Allah….ketika akhirnya KAU menjawab doa ku. Dua belas tahun, Ya Allah…waktu yang KAU berikan untukku agar mempersiapkan diri menerima pengabulan doa MU. Impian, harapan, cita-cita yang tersimpan jauh di lubuk hati yang terdalam selama dua belas tahun, akhirnya muncul ke permukaan, menjadi sebuah kenyataan.
Menyandang status sebagai seorang mahasiswa, mungkin bagi kebanyakan orang adalah hal yang biasa. Sebagian orang malah termuak-muak dengan predikat mahasiswa abadi. Pun, ada sebagian orang yang benci menjadi mahasiswa karna sebuah keterpaksaan. Tapi tidak bagiku…
Dua belas tahun yang lalu, ketika, dengan penuh perjuangan dan pengorbanan orang tua, aku bisa menyelesaikan SLTA, telah ku pendam jauh-jauh impian untuk meneruskan pendidikan ke bangku kuliah. Kenyataan yang terhampar dihadapanku menyadarkan aku ada hal-hal yang lebih penting untuk di lakukan. Orang tua yang sudah tak mampu lagi mencari nafkah, membuat kakak tertua terpaksa drop out dari sekolah ketika masih SD. Kakakku menangis berhari-hari minta pergi ke sekolah sebelum akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa dia hanya bisa mengikuti dengan teman-temannya sampai ke gerbang sekolah.
Beasiswa demi beasiswa membantuku tetap bertahan menikmati manisnya pendidikan hingga tamat SLTA. Bukan…bukan beasiswa untuk siswa berprestasi yang aku terima, karna aku tak termasuk dalam kategori itu, tetapi beasiswa bagi anak-anak miskin adalah kategoriku. Ah, tak mengapa…tak perlu malu karna itu toh bukan suatu aib, malah sebuah berkah yang harus di syukuri.
Dan aku masih mempunyai adik yang juga butuh pendidikan. Hal itu membuatku ingin cepat-cepat lulus sekolah dan membantu nafkah keluarga. Ku lihat orang tua ku semakin megap-megap dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Rumah kontrakan yang harus di bayar, harga sandang pangan kebutuhan pokok yang tak pernah kompromi, membuatku tak bisa menikmati masa-masa yang sering di sebut masa remaja yang paling indah. Sekolah sambil bekerja sebagai PRT adalah kegiatan yang aku jalani pada usia SMA. Usia yang dihabiskan oleh teman-teman sebayaku untuk bergaul, bergembira ria menikmati masa remaja yang ceria. Tapi, untuk apa aku melihat mereka yang nasibnya lebih baik dariku, membuat hati ini kotor saja. Masih banyak orang yang nasibnya tak seberuntung aku. Aku masih bisa sekolah, masih bisa makan cukup, dan masih banyak nikmat yang patut di syukuri ketimbang mengeluh.
Ketika tiba saat kelulusan sekolah, sementara teman-temanku, sibuk mengisi formulir UMPTN, aku juga sibuk mencari pinjaman koran untuk mencari iklan lowongan pekerjaan. Seringkali aku ikut menemani sahabatku ke kampus-kampus megah untuk mengurus pendaftaran. Senang rasanya hati ini berada di dalamnya, melihat orang-orang sibuk lalu lalang membawa tumpukan buku-buku. Wajah-wajah cerdas yang bahagia, pikirku. Dan kembali ku hibur diri ini dengan berkonsentrasi penuh mencari pekerjaan. Aku bertekad kuat untuk mengambil alih peran kedua orang tuaku dalam mencari nafkah, sambil berharap bisa menyisihkan sedikit tabungan agar menjadi bagian dari orang-orang berwajah cerdas itu.
Bersama kesulitan ada kemudahan. Alhamdulillah, tak lama kemudian aku mendapat pekerjaan di sebuah toko. Mulai ku jalani hari demi hari dengan penuh kesungguhan menjemput rejeki. Ku coba menyisihkan penghasilan untuk sebuah impian yang tersimpan di hati, namun adikku lebih membutuhkannya. Jalannya masih sangat panjang. Dia baru kelas 5 SD waktu itu dan aku tak ingin dia bernasib sama seperti abangku, kandas di tengah jalan. Adikku adalah tanggung jawabku. Maka, aku pun merasakan apa yang di rasakan oleh orang tuaku, betapa mahal biaya pendidikan. Tidak…aku tidak boleh menyerah. Adikku tak boleh sampai putus sekolah sebelum tamat sekolah.
Kembali ku kubur jauh-jauh impian itu setiap kali muncul ke permukaan. Pernah suatu saat, tanpa terasa air mata ini meleleh ketika aku duduk di halte depan sebuah kampus besar. Aku membayangkan menjadi salah satu di antara mereka dengan dandanan lucu karena sedang menjalani masa ospek awal tahun pelajaran. Duhai alangkah senangnya…
Tahun demi tahun aku bekerja, berusaha untuk keluar dari jerat kemiskinan, berusaha memperbaiki taraf perekonomian keluarga, berusaha menahan berbagai keinginan agar dapat menyisihkan sedikit rejeki untuk sebuah impian di hati. Ketika aku merasa simpananku sudah cukup untuk mewujudkan impian itu, ada keperluan lain yang muncul. Urgensi akan sebuah rumah kecil milik sendiri kemudian menjadi obsesiku. Tak mau terus menerus menjadi “kontraktor”, di tagih-tagih setiap bulannya membuat aku bermimpi akan sebuah rumah. Kembali, impian kuliah tenggelam …
Dan, dua belas tahun berlalu. Tiba saat impian itu benar-benar muncul ke permukaan dan menjelma menjadi sebuah kenyataan.
Saat ku tengok kembali ke masa lalu, rasa syukur tak terperi memenuhi rongga dadaku. Ternyata Allah mempunyai rencana, dan rencana itu terwujud indah pada pada waktunya. Allah mempersiapkan segalanya bagiku. Ketika adikku sudah bisa mandiri, ketika kami tak harus menumpang kontrakan lagi, ketika orang tuaku sudah tak perlu lagi membating tulang mencari nafkah, kini Allah mempergilirkan waktu bagiku untuk mewujudkan impianku
Alam semesta adalah kampus besar dan Allah adalah dosen tunggalnya. Dan DIA mengajarkan segala hal dengan sifat Rohman dan Rahim NYA, hanya untuk mereka yang mau membuka mata hati.
Duhai Allah, dua belas tahun adalah waktu yang KAU berikan bagiku untuk mempersiapkan diri menerima jawaban doa dari MU.
Dan bagaimana dengan doa ku yang lain, Ya Allah? (yang itu, tuuu….) Kapan dan bilakah KAU menjawab NYA…
“Allah tidak selalu memberi apa yang kita minta, tetapi DIA memberi apa yang kita butuhkan. “
Alkohol ma Khamar tu BEDA
Swaktu baca artikel tanya jawab ini, saya jadi ingat perdebatan sengit smasa SMA mengenai halal tidaknya parfum dan hal2 lan yang mengandung alkohol...sengit, karena sama2 ngeyelnya,hwehehe...emang,kadang lucu juga mendengar orang dengan yakinnya ngomong sesuatu padahal sebenarnya gak bgitu paham dengan apa yang diomongkannya....
Met mbaca....
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.
Ustadz, Bagaimana tanggapan ustadz tentang fatwa Dr.Yusuf Qordhowi tentang halalnya minuman beralkohol yang berkadar 0.5%? Apa landasan beliau? Bukankah ada hadits yang menyebutkan bahwa minuman yang memabukan baik sedikit atau banyak tetap haram.
Terima kasih atas jawabannya.
NK
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebenarnya Syeikh Al-Qaradawi bukan menghalalkan khamar. Yang beliau sebutkan adalah kadar maksimal Alkohol yang masih bisa ditolelir dalam suatu obat atau makanan. Dan tidak ada yang salah dalam masalah ini.
Bahkan LPPOM MUI malah lebih longgar ketika memberikan batasan, mereka menyebut kadar nilai 2%, jauh lebih banyak dari yang disebutkan oleh Al-Qaradawi.
Bukankah Banyak dan Sedikit Tetap Haram?
Benar sekali bahwa banyak atau sedikit tetap haram, tetapi kita harus perhatikan dulu, yang disebut banyak atau sedikit itu apanya?
Bukan kadar Alkohol tapi khamar. Khamar itu mau diminum cuma setetes atau mau ditenggak seember, sama-sama haram. Tapi Alkohol tidak sama atau tidak identik dengan khamar. Inilah titik masalahnya.
Kita bisa katakan bahwa Alkohol adalah senyawa kimia, sedangkan Khamar adalah karakter suatu bahan makanan, minuman atau benda yang dikonsumsi.
Definisi khamar tidak terletak pada susunab kimianya, tapi definisinya terletak pada efek yang dihasilkannya, yaitu al-iskar (memabukkan). Maka benda apa pun yang kalau dimakan atau diminum akan memberikan efek mabuk, dikategorikan sebagai khamar.
Maka definisi khamar yang benar menurut para ulama adalah 'segala yang memberikan efek iskar (memabukkan)'. Dan definisinya bukanlah 'semua makanan yang mengandung Alkohol'.
Sebab menurut para ahli, secara alami beberapa makanan kita seperti singkong, duren dan buah lainnya malah mengandung Alkohol. Namun kita tidak pernah menyebut bahwa makanan itu haram karena mengandung Alkohol.
Dan karena definisinya segala benda yang memberikan efek iskar, maka ganja, opium, drug, mariyuana dan sejenisnya, tetap bisa dimasukkan sebagai khamar. Padahal benda itu malah tidak mengandung Alkohol.
Daun ganja kering yang dilinting seperti rokok, rasanya tidak mengandung Alkohol, tapi dia tetap dikatakan sebagai khamar. Karena daun itu memabukkan kalau dihisap asapnya.
Senyawa Alkohol sendiri kalau kita minum, bukan efek al-iskar (mabuk) yang dihasilkan, melainkan efek al-mautu.
Al-Mautu? Apa itu?
Al-mautu artiya kematian. Coba saja minum alkohol 70% yang kita beli di Apotek, tidak usah banyak-banyak, segelas saja, insya Allah langsung innalillahi.
Dalam dalam kadar yang kecil dan sedikit, Alkohol aman bagi tubuh dan juga tidak memberi efek al-iskar, juga tidak memberi efek al-mautu. Karena itu banyak ulama dan lembaga pengawas makanan yang membolehkan khamar dengan kadar tertentu, terutama untuk larutan obat.
Dan karena Alkohol tidak identik dengan khamar, maka bila jumlahnya sedikit masih bisa ditolelir.
Lalu Bagaimana Mengukur Al-Iskar?
Kepolisian biasanya memang mengukur apakah seseorang mabuk atau tidak, mengunakan kadar Alkohol dalam darah. Padahal dalam syariah Islam, cara pengukuran seperti itu tidak pernah dilakukan.
Sebab fenomena al-iskar itu mudah sekali diketahui, sama saja dengan menyebutkan beda orang yang tidurdengan yang tidak tidur. Tidak perlu diukur dengan beragam pengukuran hingga sampai REM segala.
Pokoknya anak kecil juga tahu membedakan, mana tidur dan mana melek. Sederhana sekali karena syariah Islam itu memang sederhana saja.
Kalau mau tahu apakah sebuah minuman bersoda itu sudah termasuk khamar atau bukan, suruh saja kucing atau kelinci meminumnya. Kita lihat efeknya, kalau hewan itu jalannya sempoyongan lantaran teler nenggak minuman itu, nah ketahuan deh bahwa minuan itu khamar. Maka otomatis kita sebut minuman itu khamar, meski tidak ada alkoholnya.
Tapi kucing atau kelincinya harus yang sehat wal afiat, jangan kucing yang kerjaannya mabok juga. Yang begitu sih tidak bisa dijadikan ukuran. Habis, tiap hari kerjaannya nenggak bir, AO, mansion, vodka, topi miring, dan sejenisnya. Kucingnya harus kucing yang belum pernah mabok sebelumnya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc (eramuslim.com)
Met mbaca....
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.
Ustadz, Bagaimana tanggapan ustadz tentang fatwa Dr.Yusuf Qordhowi tentang halalnya minuman beralkohol yang berkadar 0.5%? Apa landasan beliau? Bukankah ada hadits yang menyebutkan bahwa minuman yang memabukan baik sedikit atau banyak tetap haram.
Terima kasih atas jawabannya.
NK
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebenarnya Syeikh Al-Qaradawi bukan menghalalkan khamar. Yang beliau sebutkan adalah kadar maksimal Alkohol yang masih bisa ditolelir dalam suatu obat atau makanan. Dan tidak ada yang salah dalam masalah ini.
Bahkan LPPOM MUI malah lebih longgar ketika memberikan batasan, mereka menyebut kadar nilai 2%, jauh lebih banyak dari yang disebutkan oleh Al-Qaradawi.
Bukankah Banyak dan Sedikit Tetap Haram?
Benar sekali bahwa banyak atau sedikit tetap haram, tetapi kita harus perhatikan dulu, yang disebut banyak atau sedikit itu apanya?
Bukan kadar Alkohol tapi khamar. Khamar itu mau diminum cuma setetes atau mau ditenggak seember, sama-sama haram. Tapi Alkohol tidak sama atau tidak identik dengan khamar. Inilah titik masalahnya.
Kita bisa katakan bahwa Alkohol adalah senyawa kimia, sedangkan Khamar adalah karakter suatu bahan makanan, minuman atau benda yang dikonsumsi.
Definisi khamar tidak terletak pada susunab kimianya, tapi definisinya terletak pada efek yang dihasilkannya, yaitu al-iskar (memabukkan). Maka benda apa pun yang kalau dimakan atau diminum akan memberikan efek mabuk, dikategorikan sebagai khamar.
Maka definisi khamar yang benar menurut para ulama adalah 'segala yang memberikan efek iskar (memabukkan)'. Dan definisinya bukanlah 'semua makanan yang mengandung Alkohol'.
Sebab menurut para ahli, secara alami beberapa makanan kita seperti singkong, duren dan buah lainnya malah mengandung Alkohol. Namun kita tidak pernah menyebut bahwa makanan itu haram karena mengandung Alkohol.
Dan karena definisinya segala benda yang memberikan efek iskar, maka ganja, opium, drug, mariyuana dan sejenisnya, tetap bisa dimasukkan sebagai khamar. Padahal benda itu malah tidak mengandung Alkohol.
Daun ganja kering yang dilinting seperti rokok, rasanya tidak mengandung Alkohol, tapi dia tetap dikatakan sebagai khamar. Karena daun itu memabukkan kalau dihisap asapnya.
Senyawa Alkohol sendiri kalau kita minum, bukan efek al-iskar (mabuk) yang dihasilkan, melainkan efek al-mautu.
Al-Mautu? Apa itu?
Al-mautu artiya kematian. Coba saja minum alkohol 70% yang kita beli di Apotek, tidak usah banyak-banyak, segelas saja, insya Allah langsung innalillahi.
Dalam dalam kadar yang kecil dan sedikit, Alkohol aman bagi tubuh dan juga tidak memberi efek al-iskar, juga tidak memberi efek al-mautu. Karena itu banyak ulama dan lembaga pengawas makanan yang membolehkan khamar dengan kadar tertentu, terutama untuk larutan obat.
Dan karena Alkohol tidak identik dengan khamar, maka bila jumlahnya sedikit masih bisa ditolelir.
Lalu Bagaimana Mengukur Al-Iskar?
Kepolisian biasanya memang mengukur apakah seseorang mabuk atau tidak, mengunakan kadar Alkohol dalam darah. Padahal dalam syariah Islam, cara pengukuran seperti itu tidak pernah dilakukan.
Sebab fenomena al-iskar itu mudah sekali diketahui, sama saja dengan menyebutkan beda orang yang tidurdengan yang tidak tidur. Tidak perlu diukur dengan beragam pengukuran hingga sampai REM segala.
Pokoknya anak kecil juga tahu membedakan, mana tidur dan mana melek. Sederhana sekali karena syariah Islam itu memang sederhana saja.
Kalau mau tahu apakah sebuah minuman bersoda itu sudah termasuk khamar atau bukan, suruh saja kucing atau kelinci meminumnya. Kita lihat efeknya, kalau hewan itu jalannya sempoyongan lantaran teler nenggak minuman itu, nah ketahuan deh bahwa minuan itu khamar. Maka otomatis kita sebut minuman itu khamar, meski tidak ada alkoholnya.
Tapi kucing atau kelincinya harus yang sehat wal afiat, jangan kucing yang kerjaannya mabok juga. Yang begitu sih tidak bisa dijadikan ukuran. Habis, tiap hari kerjaannya nenggak bir, AO, mansion, vodka, topi miring, dan sejenisnya. Kucingnya harus kucing yang belum pernah mabok sebelumnya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc (eramuslim.com)
Sabtu, 12 April 2008
Hafalanku (masih) Ancur......
Dulu pernah ikutan gangguin adik2 TPA, swaktu saling tes hafalan, ups, ternyata aq g hafal juz 30....
Pernah coba perbaiki, aneh, yang tadinya sempat hafal, ilang lagi...katanya sih gara2 jarang di pake swaktu sholat alias punya surah2 favorit....atau sbenarnya tmen2ku g enak swaktu maw bilang ini smua gara2 aq kbanyakan dosa,hwehehe....T_T
Sempat ngambek karena sini hafal sana lupa lagi, sana hafal sini gantian lupa ato malah kbolak-balik...kadang mirip2 sih, apalagi klo mbacanya sambil mbayangin artinya,walah....ngapalin arti aja dah kayak undang-undang, lupa dikit malah buyar semua...
Truz coba2 dari Juz satu, eh, baru beberapa halaman, kumat lagi tu penyakit hafalan....
Coba dari tengah, malah sering blank swaktu maw dipake saat sholat, kepanjangan n kadang terasa lebih sulit gara2 lafadz2 yang khas, artinya pun susah di ingat, lebih susah dari ngapalin materi ujian....
Hafalan Hadits?halah...intinya sih tau, klo ditanya lafadz aslinya ya...nyerah aja,dari pada sok tau n malah ngasal....
Bahkan mpe hari ini, hafalanku masih kacau....entahlah, susah bangkit dari kebodohan ini, banyak dosa, kurang kemauan, ada aja alasannya....
Ya ampun, salut bwat penghafal2 Al-Qur'an....transfer hafalan via mimpi bisa nggak ya??
Astaghfirullah.....
Pernah coba perbaiki, aneh, yang tadinya sempat hafal, ilang lagi...katanya sih gara2 jarang di pake swaktu sholat alias punya surah2 favorit....atau sbenarnya tmen2ku g enak swaktu maw bilang ini smua gara2 aq kbanyakan dosa,hwehehe....T_T
Sempat ngambek karena sini hafal sana lupa lagi, sana hafal sini gantian lupa ato malah kbolak-balik...kadang mirip2 sih, apalagi klo mbacanya sambil mbayangin artinya,walah....ngapalin arti aja dah kayak undang-undang, lupa dikit malah buyar semua...
Truz coba2 dari Juz satu, eh, baru beberapa halaman, kumat lagi tu penyakit hafalan....
Coba dari tengah, malah sering blank swaktu maw dipake saat sholat, kepanjangan n kadang terasa lebih sulit gara2 lafadz2 yang khas, artinya pun susah di ingat, lebih susah dari ngapalin materi ujian....
Hafalan Hadits?halah...intinya sih tau, klo ditanya lafadz aslinya ya...nyerah aja,dari pada sok tau n malah ngasal....
Bahkan mpe hari ini, hafalanku masih kacau....entahlah, susah bangkit dari kebodohan ini, banyak dosa, kurang kemauan, ada aja alasannya....
Ya ampun, salut bwat penghafal2 Al-Qur'an....transfer hafalan via mimpi bisa nggak ya??
Astaghfirullah.....
Politik Kampus...
Beberapa hari yang lalu, Mbakku yang kuliah di sebuah PTN di Semarang (nama PTNnya mirip pahlawan nasional yang di buku2 sejarah gambarnya punya ciri khas sorban putih, naek kuda, n bawa keris.....masih tersamarkan kan?hehe...) cerita ttg organisasi-organisasi Ideologis di kampusnya, bahkan ada yang "tampak" berusaha memperkuat pengaruh di sana.
Jadi ingat masa lalu...banyak organisasi ideologis, mulai dari yang mnurutku baik, sampe yang mnurutku nganeh2i (menurutku loh...), wajar, iklim orang2 terpelajar memang gitu, meski kadang tanpa sadar mereka agak "sombong" dengan ke-terpelajar-annya dengan sifat yang mau menangnya sendiri dan merendahkan organisasi lain...kadang sih....
Sah2 saja bikin organisasi,penting malah,tp aku nggak suka dengan gaya yang sok benar sendiri, tidak menghargai organisasi lain,dan keras kepala dalam berpendapat. Aku seneng ngliat orang atau organisasi yang santun, menghargai orang lain, dan cerdas dalam melakukan kegiatannya.
Bwat organisasi non-agamis, kalian keren juga kok, tapi ati2, jangan tinggalkan nilai2 keagamaan ya, jangan sampe orang2 yang ngakunya menyuarakan kebenaran kok akhlaqnya jauh dari kebenaran versi agama n kepercayaan masing2?kan gak lucu klo pejuang kebenaran gak bisa diteladani...
Bwat organisasi Agamis non-Islam, tenang Pren, meski minoritas, jangan merasa didzolimi....Islam sangat menghargai perbedaan asal nggak nyinggung akidah (wah, klo dah nyangkut akidah,nyawa kami pun suka rela dipertaruhkan....), klo ada oknum yang mendzolimi kalian, jangan digeneralisir ya...tetep gunakan cara2 yang santun, aku rasa semua agama harusnya mengajarkan demikian.....
Bwat organisasi bernafas keIslaman, tetep istiqomah n tetep gunakan cara2 yang santun penuh keteladanan, jangan sampai fanatisme golongan menjebak kita ke dalam hal2 yang kita tahu harusnya kita hindari seperti menganggap diri paling benar sehingga tanpa sadar kena virus BonkBunk alias "kesombongan terselubung", bahkan seenaknya memvonis organisasi yang menempuh "jalan" lain sebagai "kesalahan" (aku sebel dengan orang yang gampang memvonis)....Aku pernah baca seuntai nasihat, ketika mengajarkan kebaikan pada seseorang, jangan langsung mengarahkan pada organisasi yang kita ikuti agar niat kita tidak tercemari...kita saling memberi nasihat dan keteladanan untuk ridlo Allah SWT, bukan untuk menambah "anggota" organisasi. Masalah ikut organisasi kita, organisasi lain, atau tidak sama sekali, biarkan mereka yang tentukan sendiri, jangan "memaksa dengan halus"....
ah,ngapain aku tulis ini,toh kalian pasti dah ngerti, bahkan mgkn lebih ngerti,hwehehe...
Okey,met bekerja sama memajukan bangsa!!!
Jadi ingat masa lalu...banyak organisasi ideologis, mulai dari yang mnurutku baik, sampe yang mnurutku nganeh2i (menurutku loh...), wajar, iklim orang2 terpelajar memang gitu, meski kadang tanpa sadar mereka agak "sombong" dengan ke-terpelajar-annya dengan sifat yang mau menangnya sendiri dan merendahkan organisasi lain...kadang sih....
Sah2 saja bikin organisasi,penting malah,tp aku nggak suka dengan gaya yang sok benar sendiri, tidak menghargai organisasi lain,dan keras kepala dalam berpendapat. Aku seneng ngliat orang atau organisasi yang santun, menghargai orang lain, dan cerdas dalam melakukan kegiatannya.
Bwat organisasi non-agamis, kalian keren juga kok, tapi ati2, jangan tinggalkan nilai2 keagamaan ya, jangan sampe orang2 yang ngakunya menyuarakan kebenaran kok akhlaqnya jauh dari kebenaran versi agama n kepercayaan masing2?kan gak lucu klo pejuang kebenaran gak bisa diteladani...
Bwat organisasi Agamis non-Islam, tenang Pren, meski minoritas, jangan merasa didzolimi....Islam sangat menghargai perbedaan asal nggak nyinggung akidah (wah, klo dah nyangkut akidah,nyawa kami pun suka rela dipertaruhkan....), klo ada oknum yang mendzolimi kalian, jangan digeneralisir ya...tetep gunakan cara2 yang santun, aku rasa semua agama harusnya mengajarkan demikian.....
Bwat organisasi bernafas keIslaman, tetep istiqomah n tetep gunakan cara2 yang santun penuh keteladanan, jangan sampai fanatisme golongan menjebak kita ke dalam hal2 yang kita tahu harusnya kita hindari seperti menganggap diri paling benar sehingga tanpa sadar kena virus BonkBunk alias "kesombongan terselubung", bahkan seenaknya memvonis organisasi yang menempuh "jalan" lain sebagai "kesalahan" (aku sebel dengan orang yang gampang memvonis)....Aku pernah baca seuntai nasihat, ketika mengajarkan kebaikan pada seseorang, jangan langsung mengarahkan pada organisasi yang kita ikuti agar niat kita tidak tercemari...kita saling memberi nasihat dan keteladanan untuk ridlo Allah SWT, bukan untuk menambah "anggota" organisasi. Masalah ikut organisasi kita, organisasi lain, atau tidak sama sekali, biarkan mereka yang tentukan sendiri, jangan "memaksa dengan halus"....
ah,ngapain aku tulis ini,toh kalian pasti dah ngerti, bahkan mgkn lebih ngerti,hwehehe...
Okey,met bekerja sama memajukan bangsa!!!
Jumat, 11 April 2008
Jalan Bahagia...
saat maw menyebarkan sebuah buletin, aku baca kata mutiara yang tertera di halaman paling belakang.Isinya kira2 begini.....
"BUKAN MELAKUKAN HAL2 YANG KITA SUKAI, TAPI SUKA MELAKUKAN HAL2 YANG HARUS KITA LAKUKAN, ITULAH JALAN KEBAHAGIAAN"
"BUKAN MELAKUKAN HAL2 YANG KITA SUKAI, TAPI SUKA MELAKUKAN HAL2 YANG HARUS KITA LAKUKAN, ITULAH JALAN KEBAHAGIAAN"
Berhenti Mengeluh
Saat segalanya terasa begitu rumit,aku mengeluh.....Saat suatu hal jauh dari harapan,aku mengeluh.....Bahkan kala dibekap kelelahan,aku pun mengeluh......Apa ada yang salah?Bukankah manusiawi?......Yup,semua itu wajar.Kewajaran yang hanya akan mendidikku menjadi orang biasa,apa adanya,tak mau berubah,menyerah pada kelaziman.....Pren,tampaknya aku kurang bersyukur.Betapa bodohnya kala merasa paling apes di dunia,padahal yang ku hadapi belum seberapa.Pemulung tua,pengasong kecil,tukang pijit buta,anak Palestina.....Hei!!!Aku lebih beruntung dari mereka!Semua akan terasa menyenangkan bila ada Iman,keyakinan,dan ketekunan.....Tak akan kulupa sebuah pesan...KAWAN,JANGAN BERHENTI BERKARYAINTIFADHAH PALESTINA TELAH MENGAJARKAN BANYAK HALKETERBATASAN BUKANLAH SUATU ALASAN
Smoga...
WALAU SAMAR, KU PASTIKAN CAHAYA TETAP TERJAGA.....
KARNA ASA YANG DINANTI TLAH PASTI, AWALI PENANTIAN, DAMPINGI PENGORBANAN...
KU COBA LINDUNGI, TAK INGIN SINARNYA SILAUKAN HATI, RACUNI DIRI....
BIARLAH TEMARAMNYA SLALU MENEMANI, BERKAWAN SANG WAKTU, SUCIKAN RASA YAKINKAN CITA....
ANDAI BOLEH BERHARAP, KU INGIN IA MENARI, INDAH, TAK PERNAH PERGI....
TENTRAMKAN JIWA, RAIH RIDLO-NYA...
KARNA ASA YANG DINANTI TLAH PASTI, AWALI PENANTIAN, DAMPINGI PENGORBANAN...
KU COBA LINDUNGI, TAK INGIN SINARNYA SILAUKAN HATI, RACUNI DIRI....
BIARLAH TEMARAMNYA SLALU MENEMANI, BERKAWAN SANG WAKTU, SUCIKAN RASA YAKINKAN CITA....
ANDAI BOLEH BERHARAP, KU INGIN IA MENARI, INDAH, TAK PERNAH PERGI....
TENTRAMKAN JIWA, RAIH RIDLO-NYA...
Dalam Sebuah Perenungan
Aktivis da'wah bukan robot...
Bukan pula manusia yang merobot....
Tiba-tiba menjadi asosial dan kehilangan sensitifitas rasa humanis
Aktivis da'wah tetap sah mengatakan itu tampan itu cantik dalam rangkaian kekagumannya pada Pencipta si makhluk tampan dan cantik
Aktivis da'wah hanya mengambil sikap berbeda dalam menyikapi gejolak perasaannya
Sebab, jalan yang ditempuh menempanya untuk tidak seperti orang kebanyakan dalam mengolah rasa, cinta, dan kekaguman
Aktivis da'wah bukan robot.....Bukan pula manusia yang merobot, kaku dan tanpa rasa.....
Aktivis da'wah hanya mencoba mengekspresikan rasa, cinta, dan kekaguman dengan cara yang semestinyaSebab, jalan yang dipilihnya menempanya untuk menjadikan segala sesuatu menjadi indah dan terjaga dalam usahanya untuk meraih ridlo dari RABB-nya
kata-katane apik ya!?! ini yen ra kleru disadur dari karya Afifah Afra ato Izzatul Jannah dengan sedikit perubahan (wis rodo lali, sak elinge wae....)Daku persembahkan untuk pren-pren yang mulai merasa ada gejolak aneh di hatinya. Akhir2 ini banyak yang mengaku mengalami gejala virus merah muda.Wjar kok pren,tinggal gimana kita menyikapinya....Dari Sang Konsultan Merah Muda (hihihi...)
Bukan pula manusia yang merobot....
Tiba-tiba menjadi asosial dan kehilangan sensitifitas rasa humanis
Aktivis da'wah tetap sah mengatakan itu tampan itu cantik dalam rangkaian kekagumannya pada Pencipta si makhluk tampan dan cantik
Aktivis da'wah hanya mengambil sikap berbeda dalam menyikapi gejolak perasaannya
Sebab, jalan yang ditempuh menempanya untuk tidak seperti orang kebanyakan dalam mengolah rasa, cinta, dan kekaguman
Aktivis da'wah bukan robot.....Bukan pula manusia yang merobot, kaku dan tanpa rasa.....
Aktivis da'wah hanya mencoba mengekspresikan rasa, cinta, dan kekaguman dengan cara yang semestinyaSebab, jalan yang dipilihnya menempanya untuk menjadikan segala sesuatu menjadi indah dan terjaga dalam usahanya untuk meraih ridlo dari RABB-nya
kata-katane apik ya!?! ini yen ra kleru disadur dari karya Afifah Afra ato Izzatul Jannah dengan sedikit perubahan (wis rodo lali, sak elinge wae....)Daku persembahkan untuk pren-pren yang mulai merasa ada gejolak aneh di hatinya. Akhir2 ini banyak yang mengaku mengalami gejala virus merah muda.Wjar kok pren,tinggal gimana kita menyikapinya....Dari Sang Konsultan Merah Muda (hihihi...)
Jangan Jadi...
Langganan:
Postingan (Atom)